Bukan Makin Sehat, Kenapa Kita Malah Makin Terobsesi dengan Angka di Smartwach?

jantung

10.000 langkah. 8 jam tidur. 500 kalori terbakar. Heart rate sekian. Semua terlihat seperti data kesehatan, sampai akhirnya kita lupa bahwa tubuh bukan proyek yang harus terus dioptimalkan.

Ada sesuatu yang agak ironis dari cara kita menjalani hidup sehat hari ini. Kita semakin punya banyak alat untuk memahami tubuh, tetapi pada saat yang sama semakin sulit benar-benar mendengarkan tubuh itu sendiri. Smartwatch memberi tahu kapan kita kurang bergerak, kurang tidur, terlalu lama duduk, bahkan kapan tubuh dianggap cukup pulih untuk kembali beraktivitas.

Sekilas, semuanya terdengar seperti kemajuan. Masalahnya dimulai ketika kesehatan tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang kita jalani, melainkan sesuatu yang harus kita capai.

Bangun tidur, yang pertama dilihat bukan lagi bagaimana tubuh terasa setelah semalam beristirahat, tetapi berapa sleep score yang diberikan smartwatch. Setelah berjalan seharian, yang dicari bukan rasa tubuh yang lebih segar, tetapi apakah angka langkah sudah menyentuh target. Bahkan setelah olahraga, perhatian bisa lebih banyak tertuju pada kalori yang terbakar daripada bagaimana tubuh sebenarnya merespons latihan tersebut.

Tanpa sadar, kita tidak sedang hidup lebih sehat. Kita sedang mengejar skor kesehatan.

Sponsored Links

Wellness yang Berubah Jadi Performance

Budaya wellness awalnya menjanjikan sesuatu yang cukup sederhana: merawat diri agar hidup terasa lebih baik. Tetapi belakangan, wellness juga mulai memiliki logika yang sangat mirip dengan dunia produktivitas.

Ada target yang harus dicapai. Ada progress yang harus dipantau. Ada angka yang harus ditingkatkan. Ada badge yang bisa dibuka. Ada grafik yang harus terlihat bagus.

Tubuh akhirnya diperlakukan seperti sebuah proyek.

Hari ini harus lebih aktif dari kemarin. Minggu ini harus lebih konsisten. Tidur harus lebih optimal. Recovery harus lebih baik. Berat badan harus lebih ideal. Bahkan istirahat pun terasa seperti sesuatu yang harus dilakukan dengan benar.

Di sinilah wellness bisa berubah menjadi performance culture versi tubuh. Kita tidak hanya dituntut produktif di kantor, tetapi juga produktif dalam merawat diri.

teknologi
Smartwatch yang bisa mengukur segala aktivitas (Foto: Pexels)

Ironisnya, kita bisa merasa gagal menjalani hidup sehat hanya karena sebuah lingkaran aktivitas di layar belum tertutup.

Ketika 8.000 Langkah Terasa Seperti Kegagalan

Ambil contoh sederhana: target harian 10.000 langkah. Angka tersebut sudah begitu populer sehingga sering dianggap seperti standar universal kesehatan. Padahal kebutuhan aktivitas seseorang tidak bisa disederhanakan menjadi satu angka yang berlaku untuk semua orang. Kondisi tubuh, usia, pekerjaan, tingkat kebugaran, tujuan aktivitas, hingga kondisi kesehatan tentu berbeda.

Namun karena angka terlihat objektif, kita cenderung mempercayainya lebih daripada sinyal tubuh. Hari ketika hanya mencapai 6.000 langkah bisa terasa seperti hari yang buruk. Padahal mungkin hari itu kita sudah berjalan cukup banyak, naik turun tangga, bekerja seharian, atau memang sedang membutuhkan recovery.

Sebaliknya, mencapai 12.000 langkah bisa memberikan rasa puas, bahkan ketika tubuh sebenarnya sudah kelelahan.

Angka membuat kesehatan terasa lebih mudah dinilai. Tapi sesuatu yang mudah diukur belum tentu menjadi sesuatu yang paling penting.

Kita mulai takut “kehilangan streak”

Masalah lain muncul ketika aktivitas sehat berubah menjadi semacam permainan tanpa akhir. Satu hari berhasil mencapai target. Besok harus mengulang. Lusa harus mengulang lagi. Kemudian muncul streak, achievement, ranking, dan berbagai bentuk gamifikasi lain yang membuat aktivitas fisik terasa seperti tantangan yang tidak boleh putus.

Bagi sebagian orang, mekanisme ini memang efektif untuk membangun kebiasaan. Tetapi bagi sebagian lainnya, motivasi tersebut bisa berubah menjadi tekanan.

Hari ketika tubuh membutuhkan istirahat bisa terasa mengganggu streak. Hari ketika sakit terasa seperti kehilangan progress. Hari ketika pekerjaan terlalu padat membuat target tidak tercapai, muncul rasa bersalah.

Akhirnya kita tidak lagi bertanya, “Apa yang dibutuhkan tubuh saya hari ini?” tapi, “Bagaimana caranya supaya angka saya tidak turun?”

Perbedaannya terdengar sederhana, tetapi menunjukkan perubahan cara kita memperlakukan tubuh.

Bahkan Tidur pun Sekarang Terasa Seperti Pekerjaan

Paradoks ini paling mudah terlihat dari cara kita mengukur tidur. Tidur seharusnya menjadi salah satu aktivitas paling pasif dalam hidup. Kita berbaring, memejamkan mata, dan membiarkan tubuh melakukan pekerjaannya sendiri. Namun kini tidur juga masuk ke dalam dunia optimasi.

Sleep score harus bagus. Deep sleep harus cukup. REM harus sekian. Waktu tidur harus memenuhi target. Recovery score harus optimal. Akibatnya, sebagian orang justru menjadi semakin cemas ketika data tidur menunjukkan hasil yang tidak sesuai harapan. Padahal rasa cemas itu sendiri bisa membuat proses tidur semakin sulit.

Ada ironi yang cukup dalam di sini: kita bisa begitu sibuk mengoptimalkan tidur sampai lupa bagaimana rasanya tidur tanpa memikirkan apakah kita sudah tidur dengan benar.

Data Seharusnya Membantu Kita, Bukan Menghakimi Kita

Bukan berarti smartwatch harus ditinggalkan.

Data kesehatan tetap memiliki manfaat. Perubahan pola aktivitas, kebiasaan tidur, atau indikator tubuh tertentu bisa memberikan informasi yang sebelumnya sulit kita lihat. Dalam konteks tertentu, wearable juga dapat membantu seseorang lebih sadar terhadap kebiasaannya dan, untuk metrik tertentu, memberikan informasi yang berguna untuk dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

Tetapi ada perbedaan besar antara menggunakan data untuk memahami tubuh dan menggunakan data untuk mengontrol tubuh. Yang pertama membuat kita lebih sadar. Yang kedua bisa membuat kita semakin cemas.

Jika setiap angka yang turun membuat kita panik, mungkin masalahnya bukan lagi pada angka tersebut. Jika satu hari tanpa olahraga membuat kita merasa bersalah, mungkin kita perlu bertanya apakah olahraga masih menjadi bentuk self-care atau sudah berubah menjadi kewajiban baru.

Dan jika kita tidak bisa beristirahat tanpa merasa harus “menghasilkan recovery score”, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi dari cara kita memahami kesehatan.

Mungkin Hidup Sehat Tidak Harus Selalu Terlihat Bagus di Dashboard

Ada hari ketika kita mencapai 12.000 langkah. Ada hari ketika hanya 4.000. Ada malam ketika tidur terasa sangat nyenyak tanpa peduli berapa skor yang diberikan aplikasi. Ada juga hari ketika tubuh hanya ingin rebahan, dan keputusan tersebut bukan kemalasan.

Kesehatan bukan kompetisi untuk mendapatkan statistik paling sempurna. Kita tidak harus membuat setiap bagian dari hidup menjadi measurable, trackable, dan optimizable. Ada bagian dari kesejahteraan yang justru muncul ketika kita berhenti mengukur sesuatu dan mulai mengalaminya.

Mungkin tujuan sebenarnya dari hidup sehat bukanlah memiliki angka yang selalu hijau, grafik yang selalu naik, atau streak yang tidak pernah terputus. Mungkin tujuan hidup sehat adalah sampai pada titik ketika kita cukup mengenal tubuh sendiri sehingga tidak membutuhkan layar untuk terus-menerus memberi tahu kita kapan harus bergerak, kapan harus berhenti, dan kapan kita sudah cukup.