Bukan Cuma Pikiran, Kesehatan Mental Juga Ditentukan oleh Usus

Di balik perubahan mood yang sering datang tiba-tiba, ada satu organ yang jarang disadari perannya, usus, yang diam-diam memengaruhi cara kita merasa, berpikir, dan menghadapi tekanan sehari-hari.

Banyak orang mengira suasana hati sepenuhnya dikendalikan oleh pikiran dan emosi, padahal faktanya pusat kendali mood justru banyak dipengaruhi oleh apa yang terjadi di dalam perut. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kesehatan semakin menyoroti hubungan erat antara kesehatan usus dan kondisi mental—sebuah koneksi yang sering disebut sebagai gut-brain axis.

Sponsored Links

Usus: “Otak Kedua” dalam Tubuh

Usus bukan sekadar tempat mencerna makanan. Di dalamnya terdapat jutaan sel saraf yang berkomunikasi langsung dengan otak melalui sistem saraf dan hormon. Bahkan, sekitar 90 persen hormon serotonin, zat kimia yang berperan besar dalam rasa bahagia dan stabilitas emosi, diproduksi di saluran pencernaan. Ketika keseimbangan bakteri baik di usus terganggu, produksi serotonin pun ikut terpengaruh, sehingga mood menjadi lebih mudah turun.

Nyeri haid
Sebagian besar hormon kebahagiaan diproduksi di pencernaan (Foto: Pexels)

Pola hidup serba cepat, jam tidur yang tidak teratur, konsumsi makanan ultra-proses, minuman manis, kopi berlebihan, serta kebiasaan makan sambil bekerja atau menatap layar menjadi bagian dari keseharian banyak orang saat ini. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat merusak keseimbangan mikrobiota usus. Akibatnya, muncul keluhan seperti perut kembung, sembelit, mudah lelah, hingga perubahan suasana hati yang drastis, termasuk rasa cemas dan mudah stres.

Hubungan usus dan otak bersifat dua arah. Stres kronis dapat mengganggu fungsi pencernaan, sementara usus yang tidak sehat dapat memperparah kecemasan dan suasana hati yang buruk. Tak heran jika saat sedang tertekan, banyak orang merasakan nyeri perut, mual, atau gangguan pencernaan lainnya. Ini bukan sekadar sugesti, melainkan respons biologis yang nyata.

Asupan makanan sangat menentukan kondisi usus. Kurangnya serat, minimnya konsumsi makanan segar, dan dominasi makanan cepat saji dapat menurunkan jumlah bakteri baik. Sebaliknya, makanan tinggi serat, sayuran hijau, buah, serta makanan fermentasi seperti yogurt dan tempe membantu menjaga keseimbangan mikrobiota. Ketika usus lebih sehat, sistem saraf pun bekerja lebih stabil, sehingga emosi menjadi lebih terkendali.

Merawat Usus untuk Mood yang Lebih Stabil

Menjaga kesehatan mental tidak selalu harus dimulai dari terapi yang rumit. Langkah sederhana seperti makan lebih mindful, tidur cukup, mengelola stres, dan memperbaiki kualitas asupan harian sudah memberi dampak besar bagi usus. Aktivitas fisik ringan dan paparan sinar matahari juga berkontribusi dalam menjaga ritme biologis tubuh yang berpengaruh pada pencernaan dan suasana hati.

Perut dan pikiran bekerja sebagai satu sistem yang saling memengaruhi. Ketika usus diabaikan, kesehatan mental pun bisa ikut terganggu. Di tengah tuntutan hidup yang cepat dan penuh tekanan, merawat usus bukan lagi soal pencernaan semata, melainkan fondasi penting untuk menjaga mood, fokus, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Tubuh yang seimbang dari dalam akan membantu pikiran tetap lebih tenang dan jernih.