Di tengah kebiasaan makan yang kerap dilakukan sambil bekerja atau menatap layar gawai, cara kita menyantap makanan ternyata memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental dan kestabilan suasana hati sehari-hari.
Di tengah ritme hidup yang serba cepat, rapat bertubi-tubi, notifikasi tanpa henti, dan kebiasaan makan sambil menatap layar, makan sering kali berubah menjadi aktivitas otomatis. Kita makan karena jam sudah menunjukkan waktu makan, bukan karena benar-benar lapar. Tanpa disadari, pola ini tidak hanya berdampak pada pencernaan dan berat badan, tetapi juga pada kesehatan mental dan suasana hati sehari-hari.
Di sinilah konsep mindful eating menjadi relevan.
Apa Itu Mindful Eating?
Mindful eating adalah praktik makan dengan penuh kesadaran. Artinya, kita hadir sepenuhnya saat makan: memperhatikan rasa, aroma, tekstur makanan, sinyal lapar dan kenyang dari tubuh, serta emosi yang muncul sebelum, saat, dan setelah makan.
Ini bukan tentang diet ketat atau aturan makanan yang rumit, melainkan tentang membangun kembali hubungan yang sehat antara tubuh, pikiran, dan makanan.
Koneksi Langsung antara Makanan dan Kesehatan Mental
Penelitian di bidang nutrisi dan psikologi menunjukkan bahwa apa dan bagaimana kita makan berpengaruh langsung pada otak. Saat makan dilakukan dengan terburu-buru atau disertai distraksi, tubuh cenderung berada dalam mode stres (fight or flight). Kondisi ini dapat mengganggu pencernaan dan memicu fluktuasi hormon stres seperti kortisol, yang berkontribusi pada perasaan cemas, mudah tersinggung, dan kelelahan mental.
Sebaliknya, mindful eating membantu mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, mode relaksasi tubuh, yang mendukung kestabilan emosi dan kejernihan pikiran.
Mindful Eating dan Mood Harian
Banyak orang tidak menyadari bahwa perubahan mood yang mereka alami, mudah marah di sore hari, craving berlebihan di malam hari, atau rasa bersalah setelah makan, sering kali bukan semata soal jenis makanan, tetapi cara makan.

Beberapa manfaat mindful eating terhadap mood harian antara lain:
- Mood lebih stabil
Dengan mengenali sinyal lapar dan kenyang, kita cenderung menghindari lonjakan gula darah yang drastis, salah satu pemicu mood swing. - Penurunan emotional eating
Mindful eating membantu membedakan antara lapar fisik dan lapar emosional, sehingga makan tidak lagi menjadi pelarian dari stres atau tekanan emosional. - Rasa puas dan tenang setelah makan
Saat makan dengan sadar, otak memiliki waktu untuk memproses rasa kenyang dan kepuasan, sehingga mengurangi keinginan makan berlebihan.
Dampaknya pada Hubungan dengan Diri Sendiri
Lebih dari sekadar soal makanan, mindful eating adalah latihan self-awareness. Praktik ini mengajarkan kita untuk mendengarkan tubuh tanpa menghakimi. Dalam jangka panjang, hal ini berkontribusi pada:
- peningkatan self-compassion
- berkurangnya rasa bersalah terkait makanan
- hubungan yang lebih sehat dengan tubuh dan citra diri
Semua faktor tersebut berperan besar dalam menjaga kesehatan mental secara menyeluruh.
Cara Menerapkan Mindful Eating di Kehidupan Sehari-hari
Mindful eating tidak harus sempurna. Bahkan perubahan kecil sudah memberikan dampak signifikan:
- Mulai makan tanpa distraksi setidaknya satu kali sehari
- Ambil jeda sejenak sebelum makan untuk mengenali tingkat lapar
- Kunyah lebih perlahan dan perhatikan rasa makanan
- Perhatikan bagaimana perasaan tubuh dan pikiran setelah makan
Konsistensi jauh lebih penting daripada kesempurnaan.
Mindful eating bukan tren sesaat, melainkan keterampilan hidup yang relevan dengan tantangan modern. Dengan makan secara sadar, kita tidak hanya merawat tubuh, tetapi juga menjaga kesehatan mental dan kestabilan mood harian.
Di dunia yang menuntut kita bergerak cepat, mindful eating mengajak kita untuk melambat sejenak, dan sering kali, dari situlah keseimbangan dimulai.


