Di balik gaya hidup perkotaan yang serba praktis dan modern, ada satu masalah nutrisi yang diam-diam menggerogoti kesehatan banyak orang: kurangnya asupan serat dalam pola makan sehari-hari.
Di tengah ritme hidup kota yang serba cepat, pembicaraan soal nutrisi sering kali berfokus pada kalori, protein, atau tren diet tertentu. Namun, ada satu komponen penting yang justru kerap luput dari perhatian: serat. Padahal, defisit serat merupakan salah satu masalah nutrisi paling umum pada masyarakat perkotaan dan berdampak luas pada kesehatan jangka pendek maupun panjang.
Pola makan urban saat ini didominasi oleh makanan praktis, olahan, dan tinggi gula atau lemak. Sarapan sering dilewatkan, makan siang terburu-buru, dan makan malam diakhiri dengan makanan instan atau pesan antar. Sayangnya, jenis makanan seperti ini umumnya miskin serat. Akibatnya, asupan serat harian jauh dari angka yang direkomendasikan, yaitu sekitar 25–38 gram per hari untuk orang dewasa.
Serat memiliki peran fundamental dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan. Kekurangan serat dapat menyebabkan gangguan seperti sembelit, perut kembung, hingga rasa tidak nyaman yang sering dianggap sepele. Namun, dampaknya tidak berhenti di sana. Dalam jangka panjang, defisit serat berhubungan erat dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga gangguan metabolik lainnya yang kini semakin banyak dialami di usia produktif.

Salah satu alasan utama rendahnya konsumsi serat di perkotaan adalah minimnya konsumsi makanan utuh. Sayur, buah, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan sering kalah bersaing dengan makanan cepat saji yang dianggap lebih praktis dan mengenyangkan. Ditambah lagi, banyak orang belum menyadari bahwa rasa kenyang yang cepat dari makanan olahan sering bersifat semu, karena rendah serat dan cepat dicerna, sehingga memicu keinginan makan berulang.
Dari sisi kesehatan metabolik, serat berperan penting dalam mengontrol kadar gula darah. Serat memperlambat penyerapan glukosa, sehingga membantu mencegah lonjakan gula darah setelah makan. Tanpa asupan serat yang cukup, tubuh bekerja lebih keras untuk mengatur gula darah, yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko resistensi insulin.
Tak kalah penting, serat juga berperan besar dalam menjaga kesehatan mikrobiota usus. Usus yang sehat bukan hanya soal pencernaan, tetapi juga berhubungan dengan sistem imun, kesehatan mental, dan tingkat peradangan dalam tubuh. Serat menjadi “makanan” bagi bakteri baik di usus. Ketika asupan serat rendah, keseimbangan mikrobiota terganggu, yang dapat memicu peradangan kronis tingkat rendah—kondisi yang sering tidak disadari namun berkontribusi pada berbagai penyakit modern.
Ironisnya, banyak masyarakat perkotaan merasa sudah makan “cukup sehat” karena menghindari gorengan atau mengurangi nasi. Namun tanpa konsumsi serat yang memadai, upaya tersebut belum tentu optimal. Diet tinggi protein atau rendah karbohidrat, jika tidak diimbangi dengan sayur dan sumber serat lainnya, justru dapat memperparah defisit serat.
Kabar baiknya, meningkatkan asupan serat tidak selalu berarti perubahan drastis. Langkah sederhana seperti menambahkan sayur di setiap waktu makan, memilih buah utuh dibanding jus, mengganti nasi putih dengan nasi merah atau biji-bijian utuh, serta memasukkan kacang-kacangan dan biji ke dalam menu harian dapat memberikan dampak signifikan. Kunci utamanya adalah konsistensi dan kesadaran bahwa serat bukan pelengkap, melainkan fondasi pola makan sehat.
Defisit serat adalah masalah nutrisi yang sunyi namun berdampak besar. Di tengah gaya hidup urban yang padat dan penuh tuntutan, memperhatikan asupan serat bukan sekadar soal pencernaan lancar, tetapi investasi jangka panjang untuk kesehatan tubuh secara menyeluruh. Kesadaran akan hal ini menjadi langkah awal untuk membangun pola makan yang lebih seimbang dan berkelanjutan di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota.


