Kapan Kita Bisa Merdeka dari Jargon “Hidup Harus Bahagia”?

cegah pikun

Bagaimana jika selama ini yang membuat kita lelah bukan karena hidup terlalu berat, melainkan karena kita terus merasa harus bahagia?

Ada sesuatu yang melelahkan dari cara kita menjalani hidup hari ini: kita seperti tidak diberi izin untuk merasa tidak bahagia. Bangun tidur, kita diingatkan untuk bersyukur. Saat lelah, kita diminta healing. Ketika sedih, kita dianjurkan mencari huikmah dan lagi-lagi bersabar. Bahkan ketika sedang tidak ingin melakukan apa-apa, muncul dorongan untuk segera memperbaiki diri. Seolah-olah setiap keadaan harus punya versi baiknya. Kalau bekerja harus produktif, kalau liburan harus menikmati, kalau sendiri harus bahagia dengan diri sendiri. Pelan-pelan, bahagia bukan lagi sekadar perasaan, tetapi berubah menjadi standar keberhasilan hidup.

Nggak bahagia? Berarti ada yang salah dengan hidupmu!

Karena itu, ketika merasa tidak bahagia, kita sering langsung bertanya, “Ada apa dengan saya?” Kita mencari penyebabnya: mungkin kurang tidur, kurang olahraga, kurang bersosialisasi, kurang liburan, atau kurang bersyukur. Kita membeli sesuatu, merencanakan perjalanan, mencoba rutinitas baru, melakukan self-care, berharap setelah semua itu kita kembali merasa lebih baik. Tidak ada yang salah dengan usaha tersebut. Yang menjadi persoalan adalah ketika setiap rasa tidak nyaman dianggap sebagai sesuatu yang harus segera diperbaiki. Padahal, ada kesedihan yang muncul karena kehilangan, kecewa karena kegagalan, cemas karena masa depan memang tidak pasti, atau lelah karena hidup sedang terlalu banyak menuntut. Tidak semuanya adalah masalah yang harus diselesaikan.

olahraga
Bahagia yang pada akhirnya membuat kita jauh dari bahagia itu sendiri (Foto: Pexels)

Kita juga perlu berhati-hati dengan budaya “selalu positif” yang kadang membuat proses menjadi manusia terasa seperti proyek yang tidak pernah selesai. Kita harus lebih mindful, lebih sehat, lebih produktif, lebih bersyukur, lebih menerima, lebih berkembang. Bahkan istirahat pun seolah harus menghasilkan sesuatu: tidur agar lebih produktif, olahraga agar tubuh optimal, liburan agar kembali bekerja dengan energi baru. Pada akhirnya, kita tidak hanya menjalani hidup, tetapi sibuk mengoptimalkan hidup. Ironisnya, usaha untuk merasa lebih baik justru bisa menciptakan tekanan baru ketika kita mulai mengawasi apakah diri kita sudah cukup bahagia atau belum.

Mungkin sudah waktunya membedakan antara hidup yang bahagia dan hidup yang utuh. Hidup yang utuh tidak selalu menyenangkan. Ada hari ketika kita penuh energi dan ada hari ketika kita hanya ingin pulang. Ada hubungan yang menghangatkan sekaligus konflik yang melelahkan. Ada keberhasilan yang membanggakan dan keputusan yang ingin kita ulangi. Ada proses yang membuat kita bertumbuh tetapi juga menyakitkan. Sesuatu tidak harus selalu menyenangkan untuk menjadi berharga. Sebab hidup yang bermakna sering kali justru menuntut kita melewati ketidaknyamanan.

Lalu, kapan kita bisa merdeka dari “hidup harus bahagia”? Mungkin bukan ketika kita menemukan kehidupan yang membuat kita bahagia setiap hari, tetapi ketika kita tidak lagi merasa gagal hanya karena sedang tidak bahagia. Ketika kita bisa mengatakan “hari ini berat” tanpa merasa harus segera mengubahnya menjadi pelajaran. Ketika kita bisa menikmati hari yang baik tanpa takut hari buruk akan datang. Ketika kita bisa melihat kebahagiaan orang lain tanpa menjadikannya ukuran bahwa hidup kita tertinggal. Kemerdekaan mungkin bukan tentang menghilangkan kesedihan, kecemasan, atau kegagalan, melainkan memberi ruang bagi semuanya untuk hadir tanpa langsung menganggapnya sebagai kesalahan.

Sebab mungkin hidup memang tidak pernah dirancang untuk selalu terasa menyenangkan. Ada hari yang penuh tawa, ada hari yang penuh pertanyaan, ada hari yang menyakitkan, dan ada hari yang bahkan terasa biasa saja. Semuanya tetap bagian dari kehidupan yang sama.

Barangkali, kita benar-benar merdeka ketika berhenti memaksa diri untuk selalu bahagia dan mulai menerima bahwa hidup yang baik bukanlah hidup tanpa kesedihan, tapi hidup yang tetap bisa kita jalani dengan utuh, bahkan ketika hari ini tidak terasa baik-baik saja.