Kartini Day Special #1: Dari MotoGP Hingga Skin Care, ini Kesibukan Lucy Wiryono

lucy wiryono

Menjadi wanita yang sibuk sebagai presenter di televisi adalah hal biasa. Tapi akan menjadi luar biasa kalau acara yang dibawakan adalah olahraga otomotif seperti MotoGP yang justru didominasi oleh kaum pria. Hal inilah yang dilakukan Lucy Wiryono selama 10 tahun karirnya sebagai presenter MotoGP. Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Goodlife berbagi kisah-kisah inspiratif dari para Kartini masa kini yang konsisten memperjuangkan pemikiran-pemikiran Kartini untuk masa depan yang lebih baik. 

Sponsored Links

Mengawali dari Radio

Menjadi bagian dari olahraga MotoGP sebetulnya tak pernah terbayangkan oleh Lucy yang mengaku sejak SMP sudah menyukai dunia broadcasting. “Saya suka dunia broadcasting karena dengan broadcasting orang yang sedang sendirian di rumah bisa merasakan punya teman hanya dengan siaran radio atau televisi,” terang Lucy saat berbincang dengan Goodlife.

Sebelum dikenal sebagai presenter MotoGP, Lucy mengawali karirnya di Hard Rock FM sebagai penyiar radio. Dari situ karirnya berlanjut menjadi presenter berbagai acara di beberapa stasiun televisi. “Acara yang dibawakan bermacam-macam, tapi yang paling sering acara olahraga,” jelas Lucy. 

Kiprahnya di dunia presenter olahraga pun diawali dengan menjadi pembawa acara kuis di siaran langsung sepak bola Euro. “Itu hanya tampil 2 menit jam 2 pagi, tapi tetap saya jalankan,” tambahnya. 

Setelah sepak bola, Lucy mulai mendapat tawaran untuk menjadi presenter olahraga di Trans7 dan pembawa berita olahraga di TV7 sebelum akhirnya menjadi presenter kejuaraan Superbike dan MotoGP seperti yang dikenal banyak orang sekarang.

Membawakan acara MotoGP. (Foto: Dok. Lucy Wiryono)

Menjadi seorang presenter MotoGP juga bukan perkara mudah. Saat itu Lucy harus mempelajari sendiri banyak hal yang berkaitan dengan balap motor, khususnya MotoGP. Tapi di saat yang sama, profesi ini juga memberikan kesempatan bagi Lucy untuk bisa bertemu dengan para pembalap ternama, seperti Valentino Rossi, Johann Zarco dan Marc Márquez.

Dan yang paling berkesan bagi Lucy adalah saat dipilih untuk menjadi MC pada acara Yamaha Team Launch Worldwide pada 2018. “Di situ hadir semua pembalap dan tokoh-tokoh petinggi Yamaha,” terang Lucy.

Menjadi MC di Yamaha Team Launch. (Foto: Dok. Lucy Wiryono)

Lalu, kesulitan apa yang dialami Lucy selama menjadi presenter MotoGP? Mendalami MotoGP menurut Lucy bukanlah hal yang sulit bahkan bagi perempuan, karena sebetulnya motor yang digunakan sudah memiliki standar khusus dan tiap tahun ada aturan yang dikeluarkan panitia. “Jadi semuanya bisa dipelajari dengan mudah, gak susah kok belajar tentang MotoGP,” terang Lucy.

Namun Lucy juga menegaskan ada perbedaan yang jelas sebagai presenter olahraga dan presenter acara lainnya. “Penonton MotoGP itu pintar-pintar, jadi kita gak boleh berlagak menggurui mereka,” terangnya.

Keluarga di MotoGP

Salah satu hal yang disukai Lucy di MotoGP adalah adanya rasa kekeluargaan yang terbentuk sangat kuat. “Meskipun bersaing, mereka ini bersama-sama sepanjang tahun dan pindah-pindah negara juga tetap bersama. Jadi rasa kekeluargaan di antara mereka sangat kuat,” terang Lucy.

Lucy juga menjelaskan bagaimana para panitia di MotoGP yang memperlakukan pers dengan sangat baik. “Meskipun kami pers dan bukan pembalap, tapi perlakuannya sangat baik dan mereka sangat peduli,” terang Lucy. 

Lucy juga mencontohkan bagaimana saat bertugas di Phillip Island, Australia, ayah dari awak kameranya meninggal dunia dan semua panitia berusaha keras untuk bisa memulangkan awak kamera tersebut ke Indonesia. “Phillip Island itu 4 jam jaraknya ke Melbourne. Mereka sampai sewakan helikopter untuk bawa awak kamera saya ke Melbourne dan langsung terbang ke Jakarta,” terang Lucy. 

Bagi Lucy, MotoGP juga lebih istimewa dibanding balap F1. “MotoGP itu lebih merakyat dan lebih dekat dengan masyarakat Indonesia. Sedangkan F1 buat saya terlalu prestisius,” terangnya. Menurut Lucy, menonton F1 juga lebih berat karena lap (putaran sirkuit) yang lebih banyak dan take-over posisi yang lebih sedikit dibanding MotoGP. “Menonton F1 itu serunya hanya menit-menit terakhir, kalau MotoGP sepanjang balapan seru,” terang Lucy.

Sepeda dan Kesehatan Kulit

Pandemi ternyata juga membuat Lucy yang hobi traveling terpaksa mengurungkan dulu niatnya untuk jalan-jalan. Berkat arahan dari suami, Lucy sekarang juga aktif bersepeda dan jalan kaki di beberapa tempat di Jakarta.

“Tadinya saya dan suami sering jalan-jalan ke Jepang karena suka dengan makanannya, dan lain-lain. Tapi di musim pandemi karena gak bisa ke mana-mana akhirnya memilih naik sepeda saja di Jakarta,” jelas Lucy. “Selain naik sepeda, jalan kaki ternyata juga menarik, karena dengan jalan kaki kita bisa melihat suatu tempat secara lebih dalam,” tambahnya.

Saat ini Lucy memiliki sepeda kesayangan yang berwarna kuning dan menurutnya ia memilih warna kuning itu karena terinspirasi dari warna kostum dan helm Valentino Rossi yang juga didominasi warna kuning.

Hobi naik sepeda dan jalan kaki inilah yang akhirnya menimbulkan perhatian baru dari Lucy, yaitu masalah kesehatan kulit. “Di masa pandemi ini kita sibuk jaga stamina dan imun, tapi kita lupa kalau kulit juga butuh perhatian. Apalagi sekarang kita lebih sering beraktivitas outdoor,” terang Lucy.

lucy wiryono
(Foto: Dok. Lucy Wiryono)

Sebelumnya, Lucy juga sudah tertarik dengan produk-produk skin care asal Jepang. “Dulu kalau ke Tokyo pasti sempatkan beli skin care,” terang Lucy. Kepedulian Lucy pada kesehatan kulit, hobi naik sepeda, dan kesukaannya pada produk-produk skin care asal Jepang membuat Lucy kini bersemangat mempersiapkan produk skin care-nya sendiri yang bahannya terbuat dari beras Jepang. “Rencananya produknya sendiri akan launching di bulan September,” terang Lucy menutup perbincangan.

Tentang Lucy Wiryono

Wanita kelahiran Jakarta pada 6 Januari 1978 ini selain dikenal sebagai presenter olahraga MotoGP, juga dikenal sebagai penyiar radio berkat awal karirnya yang dimulai sebagai penyiar. Beberapa program radio yang pernah ia bawakan adalah Good Morning Hard Rockers Show dan Drive in Jive di Hard Rock FM dan Music Box Weekend di Cosmopolitan FM. Selepas berkarir di radio, Lucy mulai menjadi presenter di beberapa acara olahraga di televisi, seperti World Super Bike, Sport7, Galeri Sepak Bola Indonesia, Sportivo dan MotoGP. Tak hanya sukses di dunia presenter olahraga, Lucy Wiryono juga membangun bisnis kuliner dengan suaminya, Chef Afit Dwi Purwanto dengan brand Holycow yang kini operasionalnya sudah memasuki tahun ke-11. 

Visited 6 times, 1 visit(s) today