Di tengah tren gaya hidup sehat yang terlihat glamor dan mahal di media sosial, benarkah menjaga pola makan bergizi harus selalu identik dengan harga yang tinggi?
Di media sosial, makan sehat sering terlihat mahal. Salad berlapis quinoa, jus cold-pressed berwarna cerah, hingga camilan impor berlabel “plant-based” seolah menjadi standar baru gaya hidup sehat. Padahal, kalau ditelusuri dari sisi medis dan ilmu gizi, sehat tidak identik dengan mahal. Tubuh tidak membaca label harga. Tubuh hanya merespons zat gizi yang masuk.
Lalu kenapa banyak orang merasa makan sehat itu berat di biaya?
Sehat Itu Soal Nutrisi, Bukan Gengsi
Dalam praktik sehari-hari, pola makan sehat sebenarnya sederhana: cukup protein, cukup serat, lemak sehat, dan karbohidrat kompleks yang tidak berlebihan.
Masalahnya, narasi yang berkembang membuat makanan sehat terlihat eksklusif. Padahal, sumber protein berkualitas seperti telur, tempe, tahu, dan ikan lokal seperti kembung atau tongkol jauh lebih terjangkau dibandingkan daging impor atau produk olahan berlabel premium.
Secara biologis, protein dari telur tetap protein lengkap dengan profil asam amino esensial yang optimal. Tempe juga kaya protein sekaligus probiotik alami hasil fermentasi. Artinya, secara fungsi metabolik, pilihan lokal tidak kalah dari produk mahal.

Karbohidrat Bukan Musuh, yang Bermasalah adalah Prosesnya
Karbohidrat sering disalahkan sebagai penyebab kenaikan berat badan. Padahal yang lebih berpengaruh adalah jenis dan tingkat pengolahannya.
Nasi putih dalam porsi wajar bukan masalah besar, tetapi karbohidrat ultra-proses seperti roti manis, minuman tinggi gula, atau camilan kemasan yang sering dikonsumsi berlebihanlah yang lebih berisiko memicu lonjakan gula darah.
Alternatif murah seperti ubi, kentang, jagung, atau beras merah justru memberikan rasa kenyang lebih lama karena kandungan seratnya lebih tinggi. Dampaknya, kadar gula darah lebih stabil dan keinginan ngemil berkurang.
Sayur Tidak Harus Organik untuk Bermanfaat
Ada anggapan bahwa sayur harus organik agar sehat. Faktanya, konsumsi sayur apa pun (organik maupun tidak) jauh lebih baik daripada tidak makan sayur sama sekali.
Bayam, kangkung, kol, dan wortel yang dibeli di pasar tradisional tetap kaya vitamin, mineral, dan antioksidan. Mencuci dengan air mengalir sudah cukup membantu mengurangi residu yang menempel.
Jika pilihan antara tidak makan sayur atau makan sayur non-organik, pilihan kedualah yang jauh lebih berdampak positif untuk kesehatan.
Yang Diam-Diam Lebih Mahal: Gaya Hidup Instan
Ironisnya, yang sering menguras dompet justru bukan bahan makanan pokok, melainkan kebiasaan impulsif: kopi kekinian harian, minuman manis, camilan kemasan, dan layanan pesan-antar yang rutin.
Secara ekonomi kesehatan, pengeluaran kecil yang berulang ini bisa jauh lebih mahal dalam sebulan dibandingkan belanja bahan masakan sederhana untuk dimasak sendiri.
Memasak di rumah memberi tiga keuntungan utama:
- Kontrol porsi
- Kontrol minyak, gula, dan garam
- Kontrol kualitas bahan
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga menurunkan risiko obesitas dan penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2.
Sarapan bisa sesederhana telur dadar dan tumis sayur dengan nasi. Makan siang cukup dengan tempe, sayur bening, dan sambal. Makan malam bisa berupa ikan kembung panggang dengan lalapan dan kentang rebus. Tanpa label diet tertentu. Tanpa makanan viral. Tanpa bahan impor.
Dari sisi makronutrien, pola ini sudah mencakup protein cukup, serat tinggi, dan lemak sehat dalam batas wajar. Makan sehat bukan tentang tren, estetika, atau mengikuti pola diet yang sedang populer. Ini tentang menjaga kestabilan energi, memperbaiki sensitivitas insulin, dan mencegah inflamasi kronis yang menjadi akar banyak penyakit modern.
Dan semua itu tidak membutuhkan anggaran besar. Yang dibutuhkan adalah strategi, konsistensi, dan pemahaman dasar tentang gizi. Karena pada akhirnya, sehat bukan soal mahal atau murah. Sehat adalah soal keputusan yang diulang setiap hari.


