Di tengah tekanan untuk menjadi orang tua yang selalu benar dan ideal, kemampuan mengelola emosi justru menjadi fondasi terpenting dalam membentuk anak yang sehat secara mental dan emosional.
Di balik niat baik untuk memberikan yang terbaik bagi anak, banyak orang tua terjebak pada satu standar yang melelahkan: harus selalu benar, sabar, dan tanpa cela. Padahal, dalam proses tumbuh kembang anak, kemampuan orang tua mengelola emosi justru memiliki dampak yang jauh lebih besar dibandingkan upaya menjadi sosok yang “sempurna”.
Perfeksionisme Orang Tua: Niat Baik yang Bisa Menjadi Bumerang
Keinginan untuk menjadi orang tua sempurna sering kali lahir dari cinta dan tanggung jawab. Namun, ketika standar ini tidak realistis, orang tua justru rentan mengalami stres kronis, mudah tersulut emosi, dan kelelahan mental. Anak dapat merasakan ketegangan ini, bahkan ketika tidak diucapkan secara langsung.
Orang tua yang terlalu fokus pada kesempurnaan cenderung menekan emosi negatif, bukan mengelolanya. Akibatnya, ledakan emosi bisa muncul tiba-tiba dalam bentuk bentakan, sikap dingin, atau reaksi berlebihan terhadap kesalahan kecil anak.
Anak Belajar dari Cara Orang Tua Bereaksi
Anak tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi terutama dari contoh nyata. Cara orang tua merespons stres, konflik, dan kekecewaan akan menjadi “cetak biru” bagi regulasi emosi anak di masa depan.

Ketika orang tua mampu mengenali emosinya, mengakui rasa marah atau lelah, lalu mengekspresikannya dengan cara sehat, anak belajar bahwa emosi bukan sesuatu yang harus ditakuti atau disembunyikan. Sebaliknya, orang tua yang tampak “sempurna” namun sering meledak secara emosional justru mengirim pesan bahwa emosi adalah sesuatu yang berbahaya dan tidak terkendali.
Mengapa Hal Ini Perlu Diwaspadai
Kurangnya kemampuan orang tua dalam mengelola emosi dapat berdampak jangka panjang, antara lain:
- Anak menjadi cemas dan takut melakukan kesalahan
- Anak tumbuh dengan kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosinya sendiri
- Muncul pola relasi yang tidak sehat, seperti takut ditolak atau terlalu bergantung pada validasi
- Risiko masalah kesehatan mental di kemudian hari meningkat
Sebaliknya, anak dari orang tua yang emosinya stabil (bukan sempurna) cenderung lebih percaya diri, resilien, dan mampu menghadapi tekanan hidup dengan lebih adaptif.
Orang Tua Tidak Harus Sempurna, Tapi Hadir Secara Emosional
Mengelola emosi bukan berarti tidak pernah marah atau lelah. Ini tentang kemampuan berhenti sejenak, menyadari apa yang dirasakan, dan memilih respons yang lebih sehat. Meminta maaf kepada anak saat berbuat salah, mengakui keterbatasan diri, dan menunjukkan proses belajar adalah bentuk parenting yang justru sangat kuat.
Dalam dunia yang penuh tuntutan, anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu benar. Mereka membutuhkan orang dewasa yang aman secara emosional yang bisa menjadi tempat pulang, bukan sumber tekanan.
Parenting bukan tentang tampil sempurna di mata orang lain, melainkan tentang membangun hubungan yang sehat dan aman secara emosional. Ketika orang tua mampu mengelola emosinya dengan baik, mereka sedang memberikan bekal terpenting bagi anak: kemampuan untuk memahami diri sendiri, menghadapi dunia, dan tetap utuh di tengah ketidaksempurnaan hidup.


