Banyak Meeting Bukan Berarti Produktif, Kenali Bahayanya Meeting Fatigue

work wfh wfo

Seharian duduk di depan layar, pindah dari satu meeting ke meeting lain tanpa jeda, lalu sore hari kamu merasa habis energi padahal nyaris tidak bergerak—itulah tanda otakmu sedang bekerja terlalu keras.

Kalender penuh dari pagi sampai sore. Satu meeting selesai, lanjut ke meeting berikutnya. Kamera nyala, mic on-off, sambil buka chat dan cek email. Secara fisik kamu cuma duduk. Tapi entah kenapa, sore hari rasanya seperti habis lari maraton.

Kalau ini terasa familiar, bisa jadi kamu sedang mengalami meeting fatigue dan cognitive overload.

Sponsored Links

Meeting Fatigue: Lelah yang Bukan Sekadar Ngantuk

Meeting fatigue adalah kondisi kelelahan mental akibat terlalu banyak meeting, terutama yang dilakukan secara virtual. Ini bukan soal “kurang fokus” atau “kurang semangat”, tapi soal cara otak bekerja.

Dalam video meeting, otak dipaksa bekerja lebih keras karena:

  • Kontak mata terasa lebih intens dan terus-menerus.
  • Ada jeda mikro dalam percakapan yang bikin otak harus ekstra waspada.
  • Kamu melihat wajah sendiri sepanjang waktu, yang tanpa sadar memicu evaluasi diri.
  • Minim bahasa tubuh alami, sehingga otak harus menebak emosi dan konteks.

Semua itu membebani korteks prefrontal, bagian otak yang bertugas mengatur fokus, keputusan, dan kontrol emosi.

Tandanya bisa berupa:

  • Sulit konsentrasi setelah meeting panjang
  • Kepala terasa berat
  • Mood lebih sensitif
  • Susah mengingat detail yang baru saja dibahas
  • Muncul “brain fog
Terlalu banyak aktivitas meeting mudah menguras kesehatan mental (Foto: pexels)

Cognitive Overload: Terlalu Banyak yang Harus Diproses

Dalam satu sesi meeting, kamu mungkin harus:

  • Mendengarkan presentasi
  • Membaca slide
  • Mencatat poin penting
  • Balas chat internal
  • Menyiapkan respons
  • Memantau ekspresi peserta lain

Masalahnya, kapasitas memori kerja manusia terbatas. Saat informasi yang masuk melebihi kapasitas itu, kualitas pemrosesan langsung turun. Kamu mungkin hadir secara fisik dan online, tapi secara kognitif sudah “overload”.

Itulah yang disebut cognitive overload, ketika otak menerima lebih banyak input daripada yang bisa dikelola secara optimal.

Kenapa Sekarang Makin Sering Terjadi?

Ada beberapa faktor yang bikin kondisi ini makin umum:

1. Back-to-back meeting tanpa jeda
Otak butuh waktu untuk reset. Tanpa jeda, beban kognitif menumpuk.

2. Budaya selalu online
Kalender penuh sering dianggap tanda produktif, padahal belum tentu efektif.

3. Multitasking digital
Yang sering disebut multitasking sebenarnya adalah perpindahan tugas cepat. Dan setiap perpindahan itu menguras energi mental.

4. Minim transisi kerja
Tanpa perjalanan fisik atau pergantian ruang, otak tidak punya sinyal jelas kapan harus berpindah mode.

Kalau terjadi terus-menerus, kombinasi meeting fatigue dan cognitive overload bisa berujung pada:

  • Penurunan performa kerja
  • Burnout
  • Gangguan tidur
  • Kecemasan ringan
  • Hilangnya motivasi

Ini bukan soal mental yang “kurang kuat”. Ini respons biologis terhadap beban kognitif yang berlebihan.

Cara Lebih Sehat Mengelola Meeting

Beberapa langkah sederhana bisa bantu menjaga kapasitas otak tetap optimal:

Beri jeda antar meeting
Sisakan 5–15 menit untuk berdiri, peregangan, atau sekadar mengalihkan pandangan dari layar.

Matikan self-view saat video call
Mengurangi tekanan evaluasi diri bisa menurunkan stres mental.

Batasi durasi meeting
Idealnya 50 menit untuk slot satu jam, atau 25 menit untuk slot 30 menit.

Hindari multitasking
Tutup tab yang tidak relevan. Fokus pada satu alur diskusi.

Evaluasi urgensi meeting
Tanyakan: apakah ini bisa diganti dengan email atau dokumen kolaboratif?

Produktif Bukan Berarti Penuh Jadwal

Banyak orang merasa bersalah ketika tidak sibuk. Padahal otak manusia dirancang untuk siklus fokus dan pemulihan. Tanpa recovery, performa pasti menurun.

Kalau kamu merasa lelah padahal “cuma duduk meeting seharian”, itu valid. Kelelahan mental sama nyatanya dengan kelelahan fisik.

Mungkin sudah waktunya kita redefinisi produktivitas—bukan seberapa penuh kalendermu, tapi seberapa jernih pikiranmu saat benar-benar dibutuhkan.