Menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kota dan menghabiskan waktu di tengah alam bisa menjadi salah satu cara untuk memulihkan energi.
Pengalaman seperti inilah yang berpotensi ditawarkan EIGER Nature, destinasi ekowisata yang resmi diperkenalkan di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Mengusung konsep petualangan, edukasi, dan pelestarian lingkungan, EIGER Nature menghadirkan alternatif wisata bagi mereka yang ingin menikmati suasana alam pegunungan sekaligus mengambil jeda dari rutinitas sehari-hari. Dengan panorama Gunung Pangrango sebagai salah satu daya tariknya, kawasan ini juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wellness berbasis alam.
Dalam tren perjalanan saat ini, wellness tidak selalu identik dengan spa atau fasilitas relaksasi di hotel. Menikmati udara pegunungan, berjalan di tengah lanskap hijau, dan menghabiskan waktu jauh dari kesibukan perkotaan juga menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang berorientasi pada kesejahteraan diri.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyambut positif kehadiran EIGER Nature. Menurutnya, pengembangan destinasi yang mengedepankan wisata alam dan petualangan sejalan dengan tren pariwisata yang semakin mengutamakan pengalaman autentik dan prinsip keberlanjutan.
“Saya menyambut baik inisiatif ini, terlebih ketika wisata alam dan petualangan semakin mendapat perhatian dalam pengembangan pariwisata dunia,” kata Widiyanti saat menghadiri peluncuran EIGER Nature di Megamendung, Selasa (27/10/2026).

Mengusung tema Menjaga dan Merawat Alam, Bergerak Bersama untuk Indonesia, EIGER Nature memadukan keindahan alam, budaya, dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan kawasan wisata. Konsep ini membuka peluang bagi pengunjung untuk tidak sekadar menikmati pemandangan, tetapi juga mengenal lingkungan dan pentingnya menjaga kelestarian alam.
Potensi Wisata Alam untuk Mendukung Wellness
Kawasan pegunungan seperti Megamendung menawarkan suasana yang berbeda dari kehidupan perkotaan. Lanskap hijau dan panorama pegunungan dapat menjadi latar untuk aktivitas luar ruang yang lebih santai, mulai dari berjalan menikmati alam hingga mengikuti kegiatan edukasi lingkungan.
Bagi wisatawan yang mencari pengalaman perjalanan lebih mindful, aktivitas di alam dapat menjadi kesempatan untuk memperlambat ritme, mengurangi distraksi, dan kembali terhubung dengan lingkungan sekitar. Meski bukan pengganti layanan kesehatan profesional, rekreasi di alam dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang mendukung kesejahteraan.
Potensi tersebut juga sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap perjalanan berkelanjutan. Berdasarkan Indonesia Tourism Outlook 2026–2027, wisata ramah lingkungan menempati peringkat ketiga, sementara wisata alam dan petualangan berada di posisi kelima dalam lima tren utama pariwisata Indonesia.
Sementara itu, Agoda Sustainable Travel Survey 2026 menunjukkan bahwa 93 persen wisatawan Indonesia mempertimbangkan aspek keberlanjutan ketika menentukan pilihan perjalanan.
Tren ini membuka peluang bagi destinasi seperti EIGER Nature untuk mengembangkan pengalaman wisata yang tidak hanya mengandalkan pemandangan, tetapi juga menawarkan aktivitas luar ruang, edukasi, dan interaksi dengan alam. Namun, pengembangan sebagai destinasi wellness akan semakin kuat jika didukung program yang dirancang khusus, seperti jalur berjalan kaki, kegiatan mindfulness di alam, atau pengalaman rekreasi yang memperhatikan kebutuhan pengunjung.

Libatkan 600 Pekerja Lokal
Selain menawarkan pengalaman wisata alam, EIGER Nature diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Widiyanti mengungkapkan bahwa destinasi tersebut saat ini telah mempekerjakan sekitar 600 warga lokal. Jumlahnya diproyeksikan meningkat hingga 2.000 orang seiring dengan pengembangan investasi pada tahap berikutnya.
“Tadi saya tanya dengan Bapak Ronny Lukito, ada 600 pekerja di sini adalah penduduk setempat dan mudah-mudahan dengan investasi tahap berikutnya bisa mencapai 2.000 orang,” ujarnya.
Penyerapan tenaga kerja ini berpotensi membuka peluang ekonomi yang lebih luas, termasuk bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penyedia kuliner, jasa pemandu, serta usaha pendukung pariwisata lainnya.
Dalam pengembangan wisata berbasis alam, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh pengelola, tetapi juga dirasakan oleh warga sekitar.
Widiyanti menambahkan, Kementerian Pariwisata terus mendorong investasi untuk mengembangkan destinasi baru, meningkatkan daya tarik wisata, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta menggerakkan perekonomian daerah.
Investasi sektor pariwisata nasional pada 2025 tercatat mencapai Rp73,56 triliun, meningkat 56,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada semester I-2026, nilainya mencapai Rp39,68 triliun atau tumbuh 16,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Konservasi Jadi Bagian Penting Pengembangan
Di balik potensi wisata dan ekonominya, kelestarian lingkungan menjadi aspek yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan EIGER Nature. Hal ini terutama penting mengingat kawasan tersebut berkaitan dengan zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
CEO EIGER Nature Ronny Lukito mengatakan, pengembangan destinasi dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Ia menyebutkan, lahan yang digunakan untuk pembangunan saat ini sekitar 1,5 persen, sedangkan ketentuan pemanfaatan yang berlaku, menurut keterangannya, memungkinkan penggunaan hingga 10 persen.
“EIGER Nature berjanji, berkomitmen akan sangat berhati-hati di dalam pengembangan, apalagi yang ada di kawasan hutan,” kata Ronny.
Sebagai bagian dari upaya pemeliharaan lingkungan, pengelola mengaku telah menanam sekitar 120.000 pohon tegakan dan delapan juta tanaman penutup tanah. EIGER Nature juga membangun sumur resapan dan kolam retensi untuk membantu mengendalikan limpasan air.
Bagi destinasi yang mengandalkan alam sebagai daya tarik utama, konservasi bukan sekadar pelengkap. Kualitas lingkungan, perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, serta pengendalian dampak kunjungan menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan kawasan dalam jangka panjang.
Karena itu, pertumbuhan jumlah pengunjung perlu berjalan seimbang dengan perlindungan ekosistem. Dengan lingkungan yang terjaga, pengalaman wisata alam pun dapat terus dinikmati oleh pengunjung tanpa mengorbankan kelestarian kawasan.
Mulai Dibuka untuk Pengunjung pada 2 November 2026
Direktur EIGER Nature Imanuel Wirajaya mengatakan, destinasi tersebut direncanakan mulai menerima kunjungan masyarakat secara bertahap pada Senin (2/11/2026).
Panorama pegunungan, termasuk pemandangan Gunung Pangrango, menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan kepada pengunjung.
“Aset utama dari EIGER Nature ini, kita selalu mengatakan, aset utama adalah alamnya,” kata Imanuel.
Menurutnya, EIGER Nature tidak hanya dikembangkan sebagai alternatif rekreasi, tetapi juga sebagai sarana untuk mendorong masyarakat lebih mengenal dan menghargai alam.
Ke depan, pengembangan destinasi ini berpotensi memperkaya pilihan wisata alam di Kabupaten Bogor, termasuk bagi wisatawan yang mencari perjalanan dengan ritme lebih santai dan pengalaman yang lebih dekat dengan lingkungan. Agar potensinya sebagai destinasi wellness semakin terasa, pengalaman yang ditawarkan perlu didukung fasilitas dan aktivitas yang sesuai, tanpa mengabaikan karakter alami kawasan.
Kehadiran EIGER Nature pun membawa harapan bagi pengembangan pariwisata berbasis alam di Megamendung. Tantangannya bukan hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara pengalaman pengunjung, pertumbuhan ekonomi masyarakat, dan kelestarian lingkungan yang menjadi aset utamanya.



