Sulit menyangkal daya tarik gorengan. Bakwan, tahu isi, tempe goreng, pisang goreng, sampai cireng hampir selalu punya satu kemampuan yang sama: membuat kita berkata, “Satu lagi, deh,” bahkan ketika sebenarnya sudah kenyang.
Menariknya, alasan kita menyukai gorengan ternyata tidak sesederhana karena rasanya gurih atau enak. Ada kombinasi antara tekstur, aroma, suhu, suara, lemak, hingga respons otak terhadap makanan berenergi tinggi yang membuat gorengan punya daya tarik tersendiri. Jadi, kalau Anda merasa sulit berhenti setelah satu potong, mungkin masalahnya bukan semata-mata kurangnya pengendalian diri.
1. Otak ternyata suka kombinasi “renyah + lembut”
Salah satu keunikan gorengan adalah teksturnya. Bagian luar yang garing bertemu dengan bagian dalam yang lebih lembut atau juicy menciptakan apa yang disebut sebagai kontras tekstur. Otak mendapatkan pengalaman sensorik yang lebih kompleks dibandingkan makanan dengan tekstur yang seragam.
Suara “kriuk” ketika menggigit juga ikut berperan. Bunyi makanan ternyata dapat memengaruhi persepsi kita terhadap rasa dan kenikmatan. Makanan yang terdengar renyah sering kali dianggap lebih segar dan menarik.
Itulah mengapa gorengan yang sudah melempem biasanya terasa jauh kurang menggoda, meskipun bahan dan bumbunya sama.
2. Aroma gorengan bisa menjadi “pemicu” sebelum kita mencicipinya
Pernah melewati penjual gorengan dan tiba-tiba merasa lapar? Ini bukan kebetulan. Proses menggoreng menghasilkan berbagai senyawa aroma melalui reaksi kimia, termasuk Maillard reaction, yaitu reaksi antara asam amino dan gula yang terjadi ketika makanan dipanaskan. Proses ini menghasilkan aroma dan cita rasa khas pada makanan yang digoreng.

Menariknya, otak tidak perlu menunggu makanan masuk ke mulut untuk mulai merespons. Aroma makanan dapat membangkitkan ekspektasi terhadap rasa dan memicu keinginan untuk makan. Dengan kata lain, kadang kita belum lapar, tetapi hidung sudah lebih dulu “mengambil keputusan”.
3. Lemak membuat rasa terasa lebih “memuaskan”
Gorengan memiliki satu komponen yang sulit diabaikan: lemak. Lemak tidak hanya memberikan energi, tetapi juga membantu membawa dan memperkuat persepsi berbagai senyawa rasa dan aroma. Makanan dengan kombinasi karbohidrat dan lemak juga dapat menjadi sangat rewarding bagi otak.
Masalahnya, kombinasi tersebut bisa membuat makanan terasa sangat mudah dinikmati. Akibatnya, sinyal “sudah cukup” dari tubuh bisa terasa kalah kuat dibandingkan dorongan untuk mengambil satu potong lagi.
Ini salah satu alasan mengapa gorengan bukan sekadar makanan yang “enak”, tetapi juga punya karakter highly palatable, makanan yang secara sensorik sangat mudah membuat kita ingin terus makan.
4. Gorengan punya suhu yang ikut menentukan kenikmatan
Gorengan paling menggoda biasanya baru matang: masih hangat, kulitnya renyah, bagian dalamnya lembut, dan aromanya kuat. Suhu makanan dapat memengaruhi bagaimana aroma, rasa, dan tekstur dipersepsikan. Pada gorengan, pengalaman tersebut datang hampir bersamaan: panas, aroma, rasa gurih, dan tekstur renyah.
Karena itu, gorengan yang baru diangkat dari penggorengan memiliki pengalaman sensorik yang berbeda dibandingkan gorengan yang sudah dingin selama beberapa jam. Jadi, mungkin yang kita cari sebenarnya bukan hanya “gorengan”, tetapi pengalaman makan gorengan dalam kondisi yang paling optimal.
5. Ada unsur kebiasaan yang membuat kita otomatis mencarinya
Gorengan juga punya hubungan erat dengan rutinitas. Ngopi sore terasa kurang lengkap tanpa pisang goreng. Hujan memunculkan keinginan makan tahu atau bakwan hangat. Rapat kantor sering ditemani gorengan. Nongkrong pun terasa lebih mudah ketika ada sepiring makanan untuk dicomot bersama.
Di sini, gorengan tidak lagi sekadar makanan. Ia menjadi bagian dari food cue, isyarat lingkungan yang mengingatkan otak pada pengalaman makan. Semakin sering suatu makanan hadir dalam situasi tertentu, semakin kuat pula asosiasi tersebut.
Itulah mengapa terkadang kita ingin gorengan bukan karena lapar, melainkan karena situasinya terasa “memanggil”.
6. Makan gorengan juga punya unsur sosial
Ada alasan lain yang sering luput: gorengan adalah makanan yang sangat sosial. Berbeda dengan makanan yang porsinya individual, gorengan biasanya dibeli dalam jumlah beberapa potong dan dimakan bersama. Kita mengambil satu, teman mengambil satu, lalu tanpa sadar tangan kembali ke piring.
Situasi seperti ini dapat membuat kita kurang memperhatikan jumlah yang sudah dimakan. Perhatian kita terpecah oleh percakapan, pekerjaan, atau aktivitas sosial. Jadi, konteks makan ternyata sama pentingnya dengan makanan itu sendiri.
7. “Cuma satu” sering menjadi jebakan psikologis
Ada satu hal yang membuat gorengan semakin menarik: ukurannya kecil. Karena satu potong terlihat tidak terlalu banyak, kita cenderung menganggap konsekuensinya juga kecil. Satu bakwan. Satu tahu. Satu tempe. Kemudian tambah satu lagi.
Padahal, ukuran kecil dapat membuat kita lebih mudah mengambil makanan berulang kali tanpa menyadari total konsumsi. Ini bukan berarti setiap gorengan harus diperlakukan sebagai musuh. Masalahnya lebih pada seberapa sering, seberapa banyak, dan apa yang menggantikan makanan lain dalam pola makan sehari-hari.
Jadi, Apakah Harus Berhenti Makan Gorengan?
Tidak sesederhana itu.
Makanan bukan hanya soal nutrisi. Ada rasa, budaya, nostalgia, kenyamanan, hingga pengalaman sosial yang membuat kita menikmati sesuatu.
Namun, memahami kenapa kita begitu menyukai gorengan justru bisa membuat kita lebih sadar ketika memakannya.
Alih-alih berpikir, “Saya nggak boleh makan gorengan,” mungkin pertanyaannya bisa diganti menjadi, “Saya benar-benar sedang lapar, atau sedang merespons aroma, kebiasaan, suasana, dan sensasi renyahnya?”
Menikmati makanan bukan tentang harus selalu memilih yang paling sehat—tetapi tentang mampu menyadari kapan kita makan karena tubuh membutuhkannya, dan kapan kita makan karena otak tahu persis bagaimana cara membuat kita menginginkannya.


