Menerima Kekurangan dan Berkenalan Dengan “Ugly Dog”

Contributor: Dimas Aji (Acuan Hidup)

Suatu hari Anto seorang remaja sedang menonton TV dan menghabiskan waktu sore dengan suguhan semangkuk kacang kulit di meja ruang tamunya. Tiba-tiba dari balik pintu ruang tamu muncul seekor anjing buruk rupa yang penuh luka, kurus dan tak terurus. Anjing itupun mendekati kaki Anto sambil berjalan terpincang-pincang kearahnya. 

Anto kemudian dihadapkan dalam situasi bingung untuk bereaksi akan anjing itu, haruskah dia memeliharanya sampai anjing ini sembuh, mengusirnya dengan kasar, atau mungkin ada cara lain untuk anjing buruk rupa itu enyah dari hadapannya.

Tanpa berfikir panjang Anto menelpon Yunus teman baiknya “Hei Yunus, di rumahku ada anjing buruk rupa datang sini kemari tolong bantu aku merawatnya, aku sudah ada si Guguk seekor puddle yang manis di rumahku”.

Dengan tegas Yunus menjawab “Anto, tidak mungkinlah, aku tidak mau, akupun punya anjing buruk rupaku sendiri di rumah yang harus aku pelihara”.

Mendengar jawaban Yunus yang menolaknya mentah-mentah, berberat hati Anto harus menerimanya dan merawat anjing buruk rupanya sendiri.

Sahabat Goodlife! memang tidak nyaman ya untuk menerima bagian dari diri kita baik luar maupun dalamnya yang tidak kita sukai. Sulit untuk menerima minusnya diri kita, rasanya lebih bahagia mengekspos bagian cantiknya. Analogi Anjing buruk rupa diatas adalah gambaran dari segala kekurangan kita, dimana digambarkan dengan rupa jelek, penuh luka, kurus, tidak terus dan cacat. Sikap bijaksana telah ditunjukan pula oleh Yunus kepada Anto, bahwa setiap orang itu punya anjing buruknya masing-masing yang harus mereka terima dan mereka rawat sendiri. 

Kekurangan sering kali disangkal sehingga kita tidak sempat untuk merawatnya untuk memberikan ruang tumbuh menjadi lebih baik. Kekurangan yang kita sering sangkal itu berakumulasi terabaikan di dalam diri manusia akibat dianggap sebagai aib yang memalukan. 
Disinilah konsep dari menerima diri kita secara penuh, artinya kita harus bisa membuka diri untuk mau menerima kekurangan kita dan juga menerima segala kegagalan yang selama ini menjadi momok dalm kata lain berkenalan lebih jauh dengan “Ugly dog” kita. Kita harus melihat seekor “Ugly Dog” ini sebagai bagian dari diri dan perjalanan kita yang bisa kita rangkul untuk bertumbuh bersama menjadi manusia yang lebih baik.

Nah Sahabat Goodlife, menariknya “Ugly Dog” ini bisa menjadi tools untuk kita latihan loh!

Menarik ya?

Setiap kali kita merasa pikiran jelek muncul atau merasa minder kita bisa beranggapan bahwa “Ugly Dog sedang muncul nih.. “, Jangan khawatir.. biarkan pikiran dan perasaan itu muncul tanpa harus terlarut dan ambilah jeda sejenak, ajak bicaralah “Ugly Dogmu” :

“Hai Ugly Dog, tenang ya semua akan baik-baik saja kita sedang memperjuangkan dirimu untuk pelan-pelan sembuh dari segala luka, rupamupun akan membaik asalkan kita selalu mengupayakannya dengan cara yang tepat.” 

Dalam afirmasi tersebut selalu sertakan “asalkan” sebagai tools untuk si “Ugly Dog” bisa membaik, karena afirmasi positif tanpa menyadari tools dan proses menuju kearah perubahan situasi yang diinginkan bisa menjadi Toxic Positivity loh Sahabat Goodlife! 

Kemudian tarik nafas panjang, hembuskan.. kembali sadar ke keadaan saat ini juga, rasakanlah perasaanmu menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Mari Sahabat Goodlife kita sama-sama belajar untuk menerima kekurangan kita, semua kegagalan hidup di masa lampau sehingga dari situ kita bisa melihatnya sebagai area tumbuh (area of improvement) untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari dan kesehatan pikiran kitapun menjadi lebih terkelola dengan tepat.

Tulisan ini adalah kiriman dari contributor, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.