Dampak Orang Tua Perfeksionis pada Kesehatan Mental Anak

Di balik ambisi orangtua yang ingin anaknya selalu menjadi yang terbaik, sering tersembunyi tekanan perfeksionisme yang perlahan menggerus rasa aman, harga diri, dan kesehatan mental anak.

Banyak orangtua meyakini bahwa menetapkan standar tinggi adalah bentuk cinta. Harapannya sederhana: anak tumbuh menjadi pribadi yang sukses, disiplin, dan unggul. Namun, ketika standar tersebut berubah menjadi tuntutan perfeksionisme yang kaku dan tanpa ruang untuk kesalahan, dampaknya justru dapat merusak kesehatan mental anak hingga dewasa.

Perfeksionisme orangtua bukan sekadar soal ingin hasil terbaik, melainkan pola pengasuhan yang menempatkan nilai diri anak pada pencapaian semata. Dalam jangka panjang, pola ini berpotensi menciptakan luka psikologis yang tidak selalu terlihat di permukaan.

1. Anak Belajar Bahwa Cinta Bersyarat

Dalam keluarga perfeksionis, pujian sering kali datang hanya saat anak “berhasil” dan memenuhi ekspektasi. Ketika gagal, respons yang muncul adalah kritik, perbandingan, atau kekecewaan yang diekspresikan secara terbuka maupun tersirat.

Akibatnya, anak menyerap pesan berbahaya:
“Aku layak dicintai hanya jika aku sempurna.”

Pola ini dapat menurunkan harga diri dan membuat anak tumbuh dengan rasa takut ditolak, bahkan oleh orang-orang terdekatnya.

Perfeksionis bisa membawa dampak pada anak-anak (Foto: Pexels)

2. Meningkatkan Risiko Cemas dan Depresi

Tekanan untuk selalu tampil sempurna memicu stres kronis. Anak hidup dalam mode “waspada”, terus-menerus mengantisipasi kesalahan. Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan erat dengan:

  • Gangguan kecemasan
  • Depresi
  • Overthinking dan rasa bersalah berlebihan

Ironisnya, semakin keras orangtua menekan, semakin besar kemungkinan anak mengalami kelelahan mental (mental burnout) sejak usia muda.

3. Takut Gagal dan Enggan Mencoba Hal Baru

Anak yang dibesarkan dalam lingkungan perfeksionis sering kali tidak berani mencoba jika hasilnya tidak dijamin sempurna. Mereka belajar bahwa kesalahan bukan bagian dari proses belajar, melainkan sesuatu yang harus dihindari.

Dampaknya antara lain:

  • Prokrastinasi ekstrem
  • Sulit mengambil keputusan
  • Takut mengambil risiko, baik dalam karier maupun hubungan personal

Padahal, kegagalan adalah komponen penting dalam perkembangan psikologis yang sehat.

4. Perfeksionisme yang Berbalik Menyakiti Diri Sendiri

Banyak anak dari orangtua perfeksionis tumbuh menjadi perfeksionis terhadap diri sendiri. Mereka menetapkan standar yang tidak realistis, keras pada diri sendiri, dan sulit merasa puas.

Dalam praktik klinis, pola ini sering terlihat pada individu yang:

  • Tidak pernah merasa “cukup”
  • Sulit beristirahat tanpa rasa bersalah
  • Mengaitkan identitas diri dengan produktivitas

Jika tidak disadari, ini dapat berkembang menjadi self-criticism yang destruktif.

5. Hubungan Emosional Menjadi Dingin dan Jauh

Pengasuhan yang berfokus pada hasil sering kali mengabaikan aspek emosional. Anak mungkin tumbuh menjadi pribadi yang “berprestasi”, tetapi kesulitan mengenali, mengekspresikan, dan memvalidasi emosinya sendiri.

Dalam jangka panjang, hal ini berdampak pada:

  • Kesulitan membangun hubungan intim yang sehat
  • Takut menunjukkan kerentanan
  • Cenderung memendam emosi

Menggeser Makna “Menjadi yang Terbaik”

Menjadi orangtua yang mendukung bukan berarti menghilangkan standar, melainkan menyeimbangkannya dengan empati. Anak perlu tahu bahwa:

  • Kesalahan adalah bagian dari proses belajar
  • Nilai diri tidak ditentukan oleh prestasi
  • Usaha lebih penting daripada hasil sempurna

Lingkungan yang aman secara emosional justru membuat anak lebih berani berkembang, resilien menghadapi kegagalan, dan memiliki kesehatan mental yang lebih stabil.

Perfeksionisme mungkin terlihat seperti ambisi yang baik, tetapi tanpa kesadaran dan kehangatan emosional, ia dapat menjadi beban yang dibawa anak seumur hidup. Dalam konteks kesehatan mental, cinta yang paling menyehatkan adalah cinta yang memberi ruang untuk menjadi manusia, bukan mesin pencapaian.