Kalau kamu selama ini menganggap nasi merah pasti lebih baik daripada es krim, penelitian ini mungkin akan membuatmu berpikir ulang.
Kita terbiasa melihat makanan dalam kategori hitam-putih: nasi merah baik, es krim buruk; sayuran sehat, gorengan tidak sehat; rendah karbohidrat lebih baik, gula harus dihindari. Padahal, tubuh manusia ternyata tidak selalu mengikuti aturan sesederhana itu. Seorang profesor biologi, Eran Segal menjabarkan gagasannya tentang sebuah penelitian nutrisi.
Sebuah penelitian terhadap sekitar 1.000 orang menemukan bahwa respons kadar glukosa terhadap makanan yang sama bisa sangat berbeda dari satu orang ke orang lain. Bahkan, makanan yang memicu lonjakan glukosa tinggi pada seseorang belum tentu memberikan respons yang sama pada orang lain.
Yang paling menarik, dalam penelitian tersebut ada orang yang mengalami lonjakan glukosa lebih tinggi setelah makan nasi dibandingkan es krim. Pada orang lain, responsnya justru sebaliknya. Bukan berarti es krim tiba-tiba menjadi makanan sehat dan nasi harus masuk daftar makanan terlarang. Justru temuan ini menunjukkan bahwa memberi label sebuah makanan sebagai “sehat” atau “tidak sehat” tidak selalu cukup untuk menjelaskan bagaimana tubuh seseorang meresponsnya.
Peneliti kemudian melihat berbagai faktor yang mungkin menjelaskan perbedaan tersebut, termasuk usia, berat badan, aktivitas fisik, riwayat kesehatan, pola makan, faktor genetik, hingga microbiome atau kumpulan bakteri di dalam usus. Dengan bantuan machine learning, data tersebut digunakan untuk mencari pola yang dapat memprediksi bagaimana seseorang merespons makanan tertentu.Gagasannya sederhana tetapi cukup mengubah cara kita melihat diet: mungkin makanan tidak bisa dipisahkan dari siapa yang memakannya.

Konsep tersebut kemudian diuji dengan memberikan pola makan yang berbeda kepada setiap peserta. Jumlah kalorinya dibuat sama, tetapi jenis makanannya disesuaikan berdasarkan prediksi respons tubuh masing-masing. Hasilnya, makanan yang dianggap lebih baik untuk satu orang bahkan bisa menjadi pilihan yang kurang baik untuk orang lain. Pada salah satu peserta, misalnya, pola makan yang diprediksi lebih baik justru memasukkan es krim dan menghasilkan kadar glukosa yang lebih normal dibandingkan pola makan pembanding.
Gagal Diet? Bukan Karena Kurang Disiplin
Temuan ini juga membawa pesan yang lebih personal. Berapa kali kita merasa gagal diet karena berat badan tidak turun, lalu menyalahkan diri sendiri karena dianggap kurang disiplin? Padahal, jika tubuh setiap orang memberikan respons berbeda terhadap makanan, kegagalan mengikuti sebuah pola diet tidak selalu berarti kita kurang kemauan. Bisa jadi pola tersebut memang tidak mempertimbangkan karakteristik tubuh dan respons individu.
Bukan berarti semua panduan nutrisi harus dibuang dan setiap orang bebas menyimpulkan bahwa makanan favoritnya “cocok” untuk tubuh. Justru penelitian ini mengajak kita lebih kritis terhadap obsesi mencari satu diet yang paling benar untuk semua orang. Pola makan sehat tetap perlu mempertimbangkan kualitas makanan, kebutuhan tubuh, kondisi kesehatan, aktivitas, dan konteks kehidupan seseorang. Tetapi semakin banyak bukti menunjukkan bahwa respons biologis terhadap makanan tidak sesederhana daftar “boleh” dan “jangan”.
Mungkin karena itu pertanyaan tentang diet perlu diubah. Bukan lagi “Apa diet yang terbaik?”, tapi “Apa pola makan yang paling cocok untuk saya?” Sebab hidup sehat bukan tentang memaksa tubuh mengikuti aturan diet yang sedang populer, tetapi memahami bahwa tubuh kita punya cerita yang tidak selalu sama dengan tubuh orang lain. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, gagal mengikuti diet orang lain bukan sesuatu yang harus membuat kita merasa gagal, bisa jadi kita memang sedang mencari pola yang sejak awal bukan milik kita.


