Jangan Keliru, ini Mitos Seputar DBD yang Wajib Kamu Tahu

sakit

DBD atau Demam Berdarah Dengue adalah salah satu penyakit yang identik menyerang saat musim hujan tiba. Hampir terjadi setiap tahun, wabah DBD juga kadang ditanggapi dengan banyak hal yang ternyata tidak semuanya benar.

DBD sendiri ditularkan melalui nyamuk di daerah tropis dan subtropis. Tingkat keparahan DBD juga beragam. Dalam tingkatan yang ringan biasanya pasien akan mengalami demam yang tinggi, sedangkan untuk tingkat yang lebih parah bisa mengakibatkan pendarahan pada pasien, penurunan tekanan darah sampai kematian.

Sayangnya, di Indonesia DBD sering ditanggapi dengan hal-hal yang tidak terbukti kebenarannya, terutama dalam hal pengobatannya. Hal-hal inilah yang kemudian banyak dipercaya masyarakat tanpa disadari bahwa sebetulnya itu adalah mitos.

Kesalahan dalam menanggapi atau merespon penyakit DBD bisa berakibat fatal, mengingat dalam tingkatan tertentu DBD bisa membahayakan nyawa penderitanya. Itu sebabnya kamu perlu tahu mitos apa saja terkait dengan DBD.

Banyak mitos seputar penyakit DBD (Foto: Xframe)

Gejala DBD mirip flu

DBD sendiri bisa menyebabkan komplikasi yang cukup luas. Dalam tingkatan DBD yang ringan, gejala yang timbul juga berbeda dengan flu biasa, yaitu:

  • Demam hingga 40 derajat celcius
  • Nyeri pada otot, tulang dan sendi
  • Mual hingga muntah
  • Kelenjar membengkak

Dan pada DBD yang lebih parah, gejalanya bisa langsung berbeda, seperti:

  • Sakit perut yang parah
  • Pendarahan dari hidung
  • Darah dalam urin, tinja dan muntah
  • Sulit bernapas
  • Pendarahan di bawah kulit (seperti memar)

Harus dirawat di rumah sakit

Biasanya bila dokter sudah menetapkan bahwa pasien terkena DBD, bayangan kita adalah pasti akan menjalani rawat inap di rumah sakit. Padahal ini belum tentu benar. 

Pasien dengan tingkatan DBD yang ringan hingga sedang bisa menjalani rawat jalan secara mandiri di rumah. Namun tentunya harus mengikuti berbagai saran yang sudah dianjurkan oleh dokter, seperti harus istirahat total, minum banyak air putih, makan makanan bernutrisi tinggi dan konsumsi obat yang sudah diresepkan.

Namun jika kondisi memburuk dan terjadi gejala yang cenderung seperti tingkatan DBD yang lebih parah, segera bawa ke rumah sakit untuk pengobatan rawat inap.

Pasien DBD tidak harus dirawat di rumah sakit (Foto: Xframe)

Demam turun artinya sudah sembuh

DBD secara medis dibagi menjadi beberapa fase, yaitu fase pra-infeksi, demam dan fase kritis. Biasanya pasien akan mengalami demam tinggi pada 4 hingga 10 hari setelah digigit nyamuk. Setelah itu demam akan turun dan pasien sebetulnya justru masuk ke dalam fase kritis.

Jadi turunnya demam bukan berarti sudah sembuh. Dalam fase kritis ini justru banyak hal bisa terjadi, seperti gangguan tekanan darah dan gangguan vital lainnya. Jadi, sebaiknya kamu tetap beristirahat dan periksakan diri ke dokter.

Kena DBD, kebal seumur hidup

Ini mitos yang banyak sekali berkembang. Padahal virus demam berdarah sendiri memiliki 4 jenis penyakit yang berbeda, yaitu DEN-1, DEN-2. DEN-3 dan DEN-4.

Kalau kamu terkena salah satu dari 4 jenis itu, seperti misalnya DEN-1, memang kamu akan kebal dari jenis virus tersebut sampai seumur hidup. Tapi ini tidak berlaku untuk jenis lainnya. Artinya kamu masih bisa terinfeksi DBD jenis DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.

DBD adalah penyakit hampir tiap tahun selalu mengancam kita. Jadi, ada baiknya kamu tetap waspada dengan kehadiran DBD yang biasanya menyerang saat musim hujan tiba dan pastikan kamu mendapatkan informasi yang benar tentang penyakit ini.

Untuk itu, kamu juga bisa mengikuti sesi Health Talk Goodlife bersama Rumah Sakit St. Carolus Jakarta pada 17 Juni 2022 pukul 13:00 hingga 14:00 dengan topik “Waspada DBD Datang Lagi” dengan narasumber dr. Ardeno Kristianto, SpPD.

Sesi menarik ini bisa kamu saksikan secara live di akun Instagram @_goodlifeid_ dan @rscarolusjakarta.

Visited 3 times, 1 visit(s) today