Bayangkan sebuah skenario yang terdengar seperti cerita fantasi: suatu hari, seorang penyihir muncul dan dengan satu ayunan tongkatnya menghilangkan seluruh daging dari supermarket, pasar, restoran, hingga dapur rumah. Bukan hanya dagingnya yang lenyap, keinginan manusia untuk menyantapnya pun ikut menghilang.
Hewan-hewan ternak yang selama ini dibesarkan untuk konsumsi manusia juga tiba-tiba bebas berkeliaran. Tidak ada lagi sapi, babi, ayam, maupun ikan yang diternakkan untuk memenuhi kebutuhan pangan kita.
Lalu, apa yang terjadi pada dunia dalam hitungan hari, tahun, bahkan ribuan tahun setelahnya?
Iklim Membaik?
Dampak pertama mungkin langsung terasa pada lingkungan. Jika konsumsi daging secara global benar-benar berhenti, emisi gas rumah kaca yang berkaitan dengan sistem pangan diperkirakan turun sekitar 63 persen.
Angkanya terdengar luar biasa. Namun, di balik itu ada persoalan baru: manusia tidak lagi memperoleh protein dan sejumlah nutrisi dari sekitar 70 miliar ayam, 1,5 miliar babi, 300 juta sapi, serta sekitar 200 juta ton ikan dan hasil laut yang diproses untuk konsumsi setiap tahunnya.
Artinya, kebutuhan pangan tidak menghilang. Ia hanya berpindah.
Permintaan terhadap buah, sayuran, dan kacang-kacangan akan melonjak. Secara nutrisi, pola makan berbasis tumbuhan sebenarnya dapat menyediakan berbagai zat gizi yang dibutuhkan untuk hidup sehat. Masalahnya, dunia tidak serta-merta memiliki cukup pasokan untuk memenuhi lonjakan permintaan tersebut.
Harga bahan pangan nabati pun berpotensi melonjak pada awal perubahan.
Di wilayah dengan kondisi geografis dan iklim yang menyulitkan pertanian, persoalannya bahkan jauh lebih kompleks. Mongolia, misalnya, memiliki lingkungan yang keras sehingga produksi sayuran dalam jumlah besar bukan perkara mudah. Jika daging mendadak hilang dari sistem pangan, masyarakat di wilayah seperti ini justru dapat mengalami kesulitan memperoleh sumber makanan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.
Ketika Daging Bukan Sekadar Makanan
Ada hal lain yang sering luput ketika perdebatan mengenai konsumsi daging hanya dilihat dari sisi nutrisi: makanan juga memiliki dimensi budaya.
Bagi sebagian masyarakat, daging dan hasil laut bukan sekadar sumber protein. Bukan sebatas nutrisi! Tapi juga berkaitan dengan mata pencaharian, tradisi, identitas, bahkan kepercayaan.
Komunitas yang secara turun-temurun bergantung pada salmon di Pacific Northwest, Amerika Serikat, misalnya, dapat kehilangan bukan hanya sumber pangan dan penghasilan, tetapi juga bagian penting dari kehidupan spiritual dan budaya mereka.
Industri perikanan juga akan menghadapi perubahan besar. Puluhan juta orang yang menggantungkan hidup pada aktivitas penangkapan ikan akan kehilangan pekerjaan, meskipun pekerjaan tersebut di sejumlah wilayah memang sudah terancam akibat menurunnya populasi ikan.

Sementara itu, runtuhnya industri peternakan akan memberikan pukulan ekonomi bagi banyak keluarga di negara berkembang yang selama ini memperoleh penghasilan dari memelihara ternak.
Sebagian produsen daging mungkin beralih ke pertanian tanaman pangan. Pergeseran ini berpotensi memberikan manfaat kesehatan tertentu bagi pekerja maupun masyarakat di sekitarnya karena mereka tidak lagi terpapar lingkungan produksi ternak yang berkaitan dengan sejumlah risiko penyakit pernapasan.
Ketika produksi tanaman pangan semakin besar, harga pun pada akhirnya dapat turun. Dalam jangka panjang, pola makan vegetarian bahkan berpotensi menjadi lebih murah dibandingkan pola makan yang mengandalkan daging di banyak negara.
Lebih Sedikit Lahan, Lebih Sedikit Air
Ada satu keuntungan lain yang cukup besar: kita tidak perlu membuka seluruh lahan baru untuk menghasilkan makanan tersebut.
Saat ini, sebagian besar lahan pertanian digunakan bukan secara langsung untuk memberi makan manusia, melainkan untuk menanam pakan ternak. Jika kebutuhan untuk memelihara hewan sebagai sumber daging menghilang, lahan tersebut dapat dialihkan untuk tujuan lain.
Secara keseluruhan, sistem pangan berbasis tumbuhan membutuhkan lebih sedikit lahan dan air. Dan ketika tekanan terhadap lingkungan berkurang, manfaatnya tidak berhenti pada manusia.
Setiap tahun, jutaan kematian berpotensi dapat dihindari, salah satunya karena menurunnya risiko penyakit jantung, kanker, dan berbagai kondisi kesehatan lain yang berkaitan dengan konsumsi daging merah dalam jumlah tinggi.
Dunia juga menghadapi risiko kesehatan lain yang mungkin ikut berkurang. Kita tidak lagi mendapatkan patogen baru dari hewan liar yang diburu untuk makanan. Risiko munculnya virus influenza baru dari peternakan babi juga dapat berkurang. Begitu pula ancaman bakteri yang resisten terhadap antibiotik yang dapat berkembang dalam sistem peternakan tertentu.
Dengan kata lain, perubahan pola makan tidak hanya berbicara tentang apa yang ada di piring, tetapi juga tentang sistem kesehatan dan lingkungan yang berada jauh di luar piring tersebut.
Alam Perlahan Mengambil Kembali Ruangnya
Beberapa tahun setelah perubahan besar itu terjadi, dampaknya terhadap biodiversitas mulai semakin terlihat. Ketika kebutuhan terhadap lahan pertanian, pakan ternak, pestisida, dan aktivitas produksi pangan tertentu menurun, tekanan terhadap habitat alami ikut berkurang.
Burung-burung di Amazon memiliki lebih banyak hutan untuk terbang dan berkembang biak. Lebih sedikit cheetah dibunuh karena dianggap mengancam ternak. Populasi lebah, tawon, dan kupu-kupu dapat berkembang ketika ruang alami kembali tersedia.
Efeknya bahkan bisa berputar kembali kepada manusia. Lebih banyak serangga penyerbuk berarti tanaman yang bergantung pada proses penyerbukan alami dapat menghasilkan panen lebih tinggi. Di laut, sejumlah spesies juga berpeluang pulih setelah tekanan akibat penangkapan ikan berlebihan berkurang.
Alam, dalam skenario ini, tidak benar-benar membutuhkan manusia untuk menyelamatkannya. Ia hanya membutuhkan manusia untuk mengurangi tekanan yang selama ini diberikan kepadanya.
Tapi Tubuh Manusia juga Bisa Berubah
Perubahan tidak berhenti pada lingkungan.
Selama ribuan tahun, manusia telah beradaptasi dengan pola makan yang berbeda-beda sesuai dengan lingkungan dan sumber pangan yang tersedia. Beberapa populasi yang secara tradisional mengonsumsi makanan berbasis tumbuhan telah mengalami perubahan genetik yang membantu tubuh mereka memproses lemak dari tanaman secara lebih efisien.
Jika manusia selama ribuan tahun hidup dalam dunia yang hampir sepenuhnya bergantung pada makanan nabati, bukan tidak mungkin tubuh manusia kembali mengalami evolusi untuk mengoptimalkan pemanfaatan nutrisi dari sumber-sumber tersebut.
Sebaliknya, kemampuan tertentu yang saat ini membantu kita memperoleh nutrisi dari makanan hewani juga dapat berubah atau berkurang.
Namun, tentu saja, semua ini hanyalah sebuah eksperimen pikiran. Tidak akan ada penyihir yang tiba-tiba menghapus daging dari dunia. Bahkan ketika semakin banyak orang memilih mengurangi konsumsi daging atau menjalani pola makan vegetarian, konsumsi daging secara global masih menunjukkan kecenderungan meningkat.
Dan di situlah persoalannya menjadi jauh lebih realistis.
Kita Tidak Perlu Menunggu Dunia Tanpa Daging
Konsumsi daging bukan satu-satunya faktor yang menentukan masa depan iklim. Tetapi sistem pangan saat ini menjadi salah satu bagian penting dari persoalan tersebut.
Bahkan jika dunia tiba-tiba berhenti menggunakan bahan bakar fosil, sistem pangan yang berjalan seperti biasa, ditambah pertumbuhan populasi, tetap berpotensi mendorong kenaikan suhu global melewati 1,5 derajat Celsius pada akhir abad ini.
Dalam konteks tersebut, sapi menjadi salah satu perhatian terbesar. Produksi daging sapi dan produk susu menyumbang lebih dari 60 persen emisi berbasis pangan, sementara keduanya hanya menyediakan sekitar 18 persen kalori dunia.
Namun, ini juga bukan berarti semua jenis daging memiliki dampak lingkungan yang sama.
Pola makan yang masih mengandung daging dalam jumlah moderat, terutama jenis dengan jejak emisi lebih rendah seperti ayam, dalam kondisi tertentu bahkan dapat menghasilkan emisi lebih kecil dibandingkan pola makan vegetarian yang sangat tinggi produk susu.
Jadi, persoalannya bukan sesederhana daging versus sayuran.
Yang lebih penting adalah seberapa banyak kita makan, jenis makanan apa yang paling sering kita pilih, dari mana makanan tersebut berasal, dan seperti apa sistem produksi di belakangnya.
Mengurangi konsumsi daging sapi, keju, dan susu dapat membawa kita lebih dekat pada sejumlah manfaat yang dibayangkan dalam dunia tanpa daging. Mungkin perubahan terbesar bukan ketika seluruh dunia berhenti makan daging, melainkan ketika kita mulai menyadari bahwa setiap pilihan di meja makan memiliki konsekuensi yang jauh lebih panjang daripada rasa kenyang yang kita dapatkan.


