Merdeka dari Likes dan Follower: Kenapa Kita Senang Diperbudak Validasi di Media Sosial?

Setiap Agustus, kita kembali bicara soal kemerdekaan: bebas dari penjajahan, bebas menentukan nasib sendiri, dan bebas menjadi bangsa yang berdaulat. Tapi di tengah perayaan itu, ada bentuk “penjajahan” yang justru kita pilih sendiri setiap hari: kebutuhan untuk mendapatkan validasi di media sosial.

Satu unggahan yang ramai bisa membuat mood naik, sementara postingan yang sepi respons kadang membuat kita bertanya-tanya apakah diri kita masih cukup menarik. Likes, views, komentar, hingga jumlah follower perlahan berubah menjadi semacam rapor sosial yang menentukan bagaimana kita melihat diri sendiri.

Persoalannya, kita sebenarnya bukan sekadar mengejar angka. Di balik sebuah like ada kebutuhan yang sangat manusiawi untuk diterima, dianggap menarik, dihargai, dan menjadi bagian dari kelompok. Ketika mendapatkan respons positif, otak menerima sinyal penghargaan yang membuat kita merasa senang dan terdorong untuk mengulanginya. Apalagi media sosial memberikan penghargaan tersebut secara cepat dan tidak selalu bisa diprediksi. Karena itu, kita bisa berkali-kali membuka aplikasi hanya untuk mengecek apakah ada notifikasi baru, bahkan ketika sebenarnya tidak ada sesuatu yang penting untuk dicari. Tanpa sadar, kita bukan hanya menggunakan media sosial, tetapi mulai mengikuti aturan main yang dibuat oleh sistemnya.

Sponsored Links

Haus Validasi Digital

Yang lebih menarik, kebutuhan akan validasi kemudian memengaruhi cara kita menjalani kehidupan offline. Kita tidak lagi hanya bertanya, “Apakah saya menikmati ini?”, tetapi mulai mempertimbangkan, “Apakah ini layak diunggah?” Makan di restoran, pergi berlibur, berolahraga, membeli sesuatu, bahkan menjalani hubungan bisa berubah menjadi bagian dari konstruksi citra diri. Kita memilih foto terbaik, sudut terbaik, pencahayaan terbaik, lalu menunggu penilaian publik. Pada titik tertentu, kehidupan tidak lagi sekadar dijalani, tetapi juga diproduksi untuk dikonsumsi orang lain.

Jumlah likes dan follower mulai menentukan rasa percaya diri individu (Foto: Pexels)

Di sinilah persoalannya menjadi lebih serius. Ketika jumlah likes dan follower mulai menentukan rasa percaya diri, validasi digital berubah menjadi mata uang harga diri. Kita merasa sukses ketika angka naik dan merasa gagal ketika angka turun. Kita bahkan bisa menghapus sesuatu karena performanya buruk, mengubah pilihan hidup agar terlihat lebih menarik, atau merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain. Ironisnya, di era personal branding ketika setiap orang didorong untuk “menjual dirinya”, kita justru berisiko menjadikan diri sendiri sebagai produk yang terus membutuhkan persetujuan pasar.

Merdeka dari validasi bukan berarti harus menghapus media sosial. Yang perlu dipertanyakan adalah siapa yang sebenarnya memegang kendali. Apakah kita mengunggah sesuatu karena memang ingin berbagi, atau karena takut pengalaman tersebut tidak dianggap berarti jika tidak mendapatkan respons? Apakah kita mengejar follower karena memiliki tujuan yang jelas, atau karena angka itu diam-diam menjadi ukuran nilai diri? Sesekali, mungkin kita perlu melakukan hal-hal yang tidak menghasilkan konten: makan tanpa memotret, berolahraga tanpa mengunggah, menikmati liburan tanpa membuat laporan perjalanan, atau merayakan pencapaian tanpa membutuhkan tepuk tangan.

Kemerdekaan mungkin memang tidak selalu berarti membebaskan diri dari sesuatu yang terlihat. Kadang, ia justru berarti membebaskan diri dari kebutuhan untuk terus-menerus dinilai. Di tengah bendera yang berkibar dan slogan tentang kemerdekaan, mungkin ada satu bentuk kebebasan yang paling personal untuk dirayakan tahun ini: kemampuan untuk tetap merasa cukup ketika layar smartphone sunyi dan tidak ada seorang pun yang menekan tombol “like”. Sebab pada akhirnya, hidup yang benar-benar kita miliki adalah hidup yang tetap terasa berharga, bahkan ketika tidak ada yang melihat.