Marah Terus Melihat Kondisi Negara: Ketika Kemarahan Panjang Mulai Pengaruhi Kesehatan Mental

Membaca berita tentang kebijakan pemerintah, melihat kondisi sosial yang semakin tidak menentu, atau menyaksikan ketidakadilan yang terus berulang bisa memunculkan kemarahan yang sulit reda. Awalnya mungkin hanya kesal setelah membaca satu berita. Namun, ketika perasaan itu terus terbawa sepanjang hari, mengganggu tidur, membuat pikiran sulit tenang, bahkan memengaruhi hubungan dengan orang sekitar, ada persoalan kesehatan mental yang perlu diperhatikan.

Pernah merasa kesal ketika membuka media sosial dan menemukan berita tentang kondisi negara? Kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat, kasus korupsi, ketimpangan sosial, hingga respons pemerintah terhadap persoalan publik bisa membuat emosi naik seketika. Kita mungkin mengomentarinya, berdiskusi dengan teman, atau membagikan kritik di media sosial. Namun, setelah ponsel ditutup, rasa marah itu ternyata tidak ikut berhenti.

Dalam situasi seperti ini, kemarahan bukan lagi sekadar reaksi sesaat terhadap sebuah peristiwa. Ia bisa berkembang menjadi emosi berkepanjangan yang terus memenuhi pikiran, bahkan ketika kita sedang bekerja, makan bersama keluarga, atau mencoba beristirahat. Ada kalanya kita merasa sulit menikmati hal-hal sederhana karena pikiran terus kembali pada berbagai persoalan yang dianggap tidak kunjung selesai.

Stres juga datang dari lingkungan termasuk kebijakan pemerintah (Foto: Pexels)

Fenomena ini layak mendapat perhatian karena kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh persoalan pribadi, pekerjaan, atau hubungan sosial. Kondisi sosial dan politik di sekitar kita juga dapat menjadi sumber tekanan psikologis, terutama ketika seseorang merasa tidak berdaya menghadapi situasi yang dianggap tidak adil.

Sponsored Links

Ketika Kemarahan Tidak Lagi Berhenti di Layar Ponsel

Dalam psikologi, kemarahan merupakan respons emosional yang wajar ketika seseorang menghadapi ancaman, ketidakadilan, frustrasi, atau sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakininya. Melihat persoalan publik yang dianggap merugikan masyarakat dapat memunculkan respons tersebut. Bahkan, kemarahan bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang kita anggap penting dan perlu diperjuangkan.

Masalahnya muncul ketika respons emosional tersebut berlangsung terlalu lama dan sulit dikendalikan. Kita terus memikirkan peristiwa yang sama, mengulang percakapan dalam kepala, membayangkan berbagai kemungkinan buruk, atau merasa harus selalu mengikuti perkembangan terbaru. Akibatnya, pikiran tidak pernah benar-benar mendapatkan jeda.

Dalam kondisi tertentu, pola ini dapat berkaitan dengan rumination, yaitu kecenderungan memikirkan suatu masalah secara berulang tanpa menghasilkan penyelesaian yang jelas. Kita merasa sedang berusaha memahami keadaan, padahal sebenarnya terus terjebak dalam lingkaran pikiran yang sama. Semakin sering berita atau peristiwa tersebut muncul, semakin mudah emosi negatif kembali aktif.

Kondisi ini tidak berarti seseorang salah karena peduli terhadap persoalan negara. Justru, kepedulian terhadap lingkungan sosial merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat. Namun, ada perbedaan antara mengikuti perkembangan situasi secara sadar dan membiarkan setiap perkembangan menguasai seluruh ruang mental kita.