Di tengah upaya merawat memori tokoh bangsa, Plataran menghadirkan pendekatan yang tak biasa: menghidupkan kembali kisah cinta Habibie dan Ainun melalui cita rasa kuliner yang pernah mengisi keseharian mereka.
Di tengah maraknya pengalaman wisata berbasis cerita, ada satu pendekatan yang terasa lebih personal: menghadirkan kenangan lewat rasa. Inilah yang coba dihidupkan Plataran Catering Services dalam program Habibie Legacy Experience, sebuah cara baru untuk mengenang kisah cinta B.J. Habibie dan Ainun, bukan hanya melalui narasi, tetapi juga melalui kuliner yang pernah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Berlokasi di Wisma Habibie & Ainun, pengalaman ini tidak sekadar membawa pengunjung menyusuri ruang-ruang penuh sejarah, tetapi juga mengajak mereka “mencicipi” fragmen kehidupan pasangan tersebut. Di sinilah peran Plataran Catering menjadi krusial: mengkurasi hidangan yang bukan hanya autentik secara rasa, tetapi juga sarat makna emosional dan historis.
Alih-alih sekadar menyajikan makanan, Plataran menghadirkan interpretasi kuliner sebagai medium storytelling. Setiap menu dirancang untuk merepresentasikan fase kehidupan, preferensi personal, hingga memori domestik Habibie dan Ainun, membuat pengalaman bersantap terasa lebih intim, hampir seperti duduk di meja makan keluarga mereka.

Hidangan Kesukaan Habibie dan Ainun
Misalnya, Sayur Lodeh Kenangan Ainun. Hidangan ini tidak tampil sebagai menu biasa, melainkan sebagai simbol kehangatan rumah dan kesederhanaan yang lekat dengan sosok Ainun. Rasa gurih yang lembut dan familiar seolah menjadi pengingat bahwa di balik sosok besar seorang tokoh bangsa, ada rutinitas sederhana yang membentuk keseharian.
Sementara itu, Ayam Semur Si Gula Jawa memperkuat narasi tersebut. Dengan cita rasa manis khas Nusantara, hidangan ini mencerminkan preferensi kuliner Ainun yang sederhana namun penuh kehangatan, sebuah refleksi dari karakter yang dikenal penuh kasih dan ketulusan.
Plataran juga membawa dimensi perjalanan hidup Habibie ke dalam sajian, salah satunya lewat Sate Domba Gulai Kota Kembang. Menu ini terinspirasi dari masa muda Habibie di Bandung, menghadirkan rasa yang lebih bold dan kaya rempah, sejalan dengan dinamika perjalanan intelektual dan profesionalnya di masa awal.
Tak berhenti di situ, ada pula Iga Sapi Saus Soto Betawi Andalan Satiyah, sebuah penghormatan terhadap sosok Satiyah, juru masak keluarga yang turut menjadi bagian penting dalam keseharian mereka. Hidangan ini memperlihatkan bagaimana kuliner rumahan bisa menjadi bagian dari memori kolektif sebuah keluarga, bahkan melampaui generasi.

Sebagai penutup, Strudel Apel Pelukan Jerman menjadi simbol yang lebih personal. Dessert ini bukan sekadar manis di lidah, tetapi juga merepresentasikan fase penting dalam kisah cinta Habibie dan Ainun saat berada di Jerman, tempat di mana cinta, karier, dan mimpi mereka bertumbuh.
Pendekatan yang diambil Plataran Catering ini memperlihatkan bahwa kuliner bisa menjadi arsip hidup. Bukan hanya tentang resep, tetapi tentang emosi, konteks, dan nilai yang melekat di dalamnya. Dalam konteks ini, makanan bertransformasi menjadi warisan, sesuatu yang bisa dirasakan, dipahami, dan diwariskan.
Melalui Habibie Legacy Experience, Plataran tidak hanya menyajikan hidangan favorit dua tokoh bangsa, tetapi juga mengangkatnya sebagai bagian dari kuliner warisan Indonesia. Sebuah langkah yang secara halus menegaskan bahwa sejarah tidak selalu harus dibaca, kadang, ia bisa dinikmati dalam sepiring makanan.


