Quarter Life Crisis Bikin Stres? Kenali Dulu Masalah dan Cara Hadapinya

quarter life crisis

Sahabat Goodlife pasti pernah mendengar ungkapan “Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu pilihan.” Istilah ini sebetulnya secara tegas memisahkan arti “menjadi tua” dan “menjadi dewasa” yang sering dianggap sama saja oleh kebanyakan orang.

Bertambah usia memang seharusnya diikuti dengan sikap yang bertambah dewasa. Di Indonesia, masa dewasa dipatok dengan usia 17 tahun yang artinya mulai usia tersebut seseorang baru boleh melakukan atau mendapat hak yang sama dengan orang dewasa lainnya.

Di Jepang berbeda lagi. Masa dewasa dipatok di usia yang lebih tua yaitu 20 tahun. Dan memasuki usia ini juga disertai dengan ritual khusus yang bernama seijinshiki, yaitu semacam upacara untuk merayakan Hari Kedewasaan (Seiji no Hi).  

seijinshiki
upacara seijinshiki

Tapi ternyata gak semudah itu lho untuk menjadi dewasa. Meskipun umur selalu jadi patokan, namun menjadi dewasa juga ternyata dipengaruhi banyak hal. Saat ini banyak orang yang memberi perhatian khusus pada Quarter Life Crisis atau krisis seperempat abad yang dialami oleh orang dengan rentang usia 18 hingga 30 tahun, di mana ini adalah masa seseorang dituntut untuk bersikap lebih dewasa.

Sponsored Links

Krisis yang Membingungkan

Quarter Life Crisis adalah periode di mana seseorang merasa bingung, kehilangan arah, galau dan ketakutan akan masa depan. Sesuai dengan tingkat umurnya, biasanya sih Quarter Life Crisis ini lekat dengan urusan karier, keluarga, hubungan pribadi dan kehidupan sosial yang terasa rumit.

Bikin bingung dan stres? Buat sebagian orang memang demikian, tapi sebetulnya Quarter Life Crisis adalah proses yang sangat wajar dialami oleh remaja yang sedang beranjak dewasa. Ada kekhawatiran mendalam tentang berbagai masalah yang biasanya baru pertama kali mereka temukan di usia mereka yang tergolong masih sangat muda dan belum siap untuk hadapi banyak tekanan.

Pemicu Terjadinya Quarter Life Crisis

Ada beberapa kondisi yang memacu timbulnya krisis ini dan biasanya adalah masalah sederhana yang kerap terjadi setiap hari, seperti:

Mengalami masalah pekerjaan atau finansial

Suka atau gak suka, pekerjaan apapun pasti akan menemui titik stres. Kondisi ini diperburuk dengan pekerjaan yang bersifat rutin, artinya rasa stres juga akan timbul secara rutin bila tak ditangani dengan baik.

Pertama kali hidup secara mandiri

Hidup mandiri memang idaman semua orang. Tapi untuk yang pertama kali mengalaminya, tentu akan menjadi sebuah tantangan tersendiri. Yang tadinya semua urusan ditangani oleh orang tua, kini harus menangani semuanya sendiri. Wajar saja bila memicu krisis.

Membuat keputusan pribadi untuk jangka waktu yang lama

Sepertinya memang sederhana untuk sekadar membuat keputusan. Tapi kalau keputusan ini berpengaruh untuk kehidupan di masa datang dan punya jangka waktu yang lama, tentu saja masalahnya jadi gak sesederhana yang dikira.

Bingung merencanakan masa depan

Semua orang pasti akan mengarahkan hidupnya untuk masa datang yang lebih baik. Itu sebabnya merencanakan masa depan pastinya harus dengan sangat hati-hati dan melalui begitu banyak persiapan, seperti karir, keuangan dan keluarga.

Melihat kondisi rekan yang lebih sukses

Kesuksesan rekan bisa berdampak negatif bila dianggap sebagai kegagalan diri sendiri. Artinya, bila diri sendiri gak bisa sesukses orang lain, maka kita telah gagal dalam hidup. Tentu saja pandangan seperti ini akan membuat orang merasa stres dan terjebak dalam Quarter Life Crisis.

Masalah dalam hubungan pribadi

Masalah ini biasanya sering menjadi pemicu Quarter Life Crisis, karena sangat rentan terjadi. Dan di usia yang masih belia, soal hubungan pribadi seperti percintaan juga sering mendominasi kehidupan sehingga bila terjadi masalah, seseorang akan rentan terjebak stres.

Meskipun ini adalah proses yang wajar, tapi Quarter Life Crisis ini gak boleh dibiarkan berlarut-larut ya, Sahabat Goodlife. Menurut psikolog Anindita Citra MPsi.Psi., walau fase ini normal dialami sebagian orang muda yang baru beranjak dewasa, tapi harus tetap berani untuk kembali menata kehidupan.

Solusi Mengatasi Quarter Life Crisis

Nah, bagaimana jika terlanjur terjebak dalam Quarter Life Crisis? Sahabat Goodlife gak perlu khawatir karena beberapa langkah berikut bisa menjadi solusi untuk membantu mengakhiri krisis tersebut:

  1. Terimalah dengan ikhlas jika ada hal-hal yang membuat kamu merasa gak happy atau belum memuaskan.
  2. Luangkan waktu untuk memikirkan apa yang kamu inginkan dan bagaimana cara untuk mencapainya.
  3. Mencari mentor atau belajar dari sumber yang kredibel. Contohnya seperti buku, podcast, training atau kursus.
  4. Stop membandingkan diri kamu dengan orang lain, karena setiap orang memiliki masalah dan solusinya masing-masing.
  5. Berani untuk mengeksplor sesuatu yang baru.

Menjadi dewasa memang gak mudah, ya. Fenomena Quarter Life Crisis adalah sesuatu yang sangat biasa terjadi, kita hanya butuh untuk terus bersikap positif dalam menghadapinya. Ketika sudah melewati krisis ini, kita akan menyadari bahwa ada pelajaran yang dapat dipetik dan pribadi yang dibentuk, agar lebih siap menghadapi ujian-ujian yang akan menghadang di depan nanti.

Tetap semangat, Sahabat Goodlife!

Visited 5 times, 1 visit(s) today